Asep M Tamam | Dok. initasik.com
Peristiwa

Kritisi Reaksi Budi Budiman, Asep M. Tamam: Kecuali Memang Pak Wali Sudah Bersih

initasik.com, peristiwa | Pengambilan payung geulis di area batu andesit Taman Kota Tasikmalaya oleh beberapa orang menjadi perbincangan heboh, terutama di media sosial. Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, sampai ikut bereaksi dengan membuat postingan di akun Facebooknya.

“Cik atuh pesta TOF Tasik Oktober Festival berakhir tgl 17 Oktober, payung yang cantik sebagai bagian penting budaya Kota Tasikmalaya jangan iseng pada diambil…,” tulis Budi, Ahad, 15 Oktober 2017 kemarin. Sampai Selasa pagi, postingan itu telah dibagikan 409 kali dan 249 komentar.

Pemerhati sosial Kota Tasikmalaya, Asep M. Tamam, menilai, cara wali kota yang seperti itu sangat tidak bijak. Sebagai pemegang kekuasaan, ia bisa dengan mudah minta bantuan kepolisian kalau mau mengatasi persoalan tersebut, tanpa mempermalukan warganya sendiri.

“Seorang pemimpin tidak boleh mempermalukan rakyatnya. Sebagai wali kota, Pak Budi bisa minta bantuan polisi untuk memproses mereka. Itupun kalau niat. Tapi bagi saya lebih baik diikhlaskan saja. Bagi-bagi kebahagiaan,” tutur Asep, Selasa, 17 Oktober 2017.

Menurutnya, wali kota tidak perlu ikut-ikutan bereaksi dengan membuat pernyataan seperti itu di media sosial. “Yang dilakukan Pak wali sangat tidak bijak. (Pengambilan payung) Itu satu kesalahan yang dilakukan terang-terangan. Tidak sembunyi-sembunyi. Pak wali boleh marah, dan harus marah pada pencurian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kecuali memang Pak wali sudah bersih. Sudah tidak ada kepentingan untuk memperkaya diri atau mendapatkan gratifikasi. Tapi benarkah Pak wali sudah bersih dari unsur-unsur itu?” paparnya.

Ia menjelaskan, sudah menjadi kabar umum, dalam setiap proyek pekerjaan selalu ada dana siluman yang tidak jelas jejaknya. Ada banyak anggaran yang dikeluarkan pihak ketiga untuk membayar ini dan itu di luar ketentuan.

“Di luar hal itu, saya ingin menyampaikan, masyarakat adalah gambaran dari pemimpinnya. Itu dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir. Kalau rakyatnya mencuri, pemimpinnya juga mungkin seperti itu. Rakyat mah terang-terangan, pemimpinnya mungkin sembunyi-sembunyi. Rakyat itu tergantung pemimpinnya. Pemimpin itu tergantung rakyatnya,” tandas Asep. [Jay]