Peristiwa

Kunci Hidup Paling Membahagiakan, Ustaz Bachtiar Nasir: Selalu Ingat Allah

initasik.com, peristiwa | Ustaz Bachtiar Nasir mengajak umat untuk menanamkan tauhid dalam hati. “Kita bukan siapa-siapa jika jiwa ini kosong dari laa ilaaha illallah. Bangun kembali komitmen ketakwaaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kenali Allah lewat namaNYA. Perbanyak zikir dengan menyebut namaNYA,” ajaknya saat ceramah di lapang Sagulingpanjang, Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jumat, 10 November 2017, malam.

Ia pun para orangtua agar menjadikan rumah sebagai madrasah untuk mendidik para pejuang agama. Menurutnya, generasi-generasi hebat akan lahir dari keluarga yang selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Saat ini banyak sekali keluarga yang sudah disorientasi. Anaknya dijadikan pengabdi dunia. Peradaban Islam tidak bisa bangkit jika anak-anak dibesarkan dengan cara seperti itu. Tidak akan lahir pemuda hebat yang bisa membebaskan umat dari berbagai macam penindasan,” tuturnya.

Ia mencontohkan doa istri Imran, Hannah, yang patut ditiru. Saat mengandung, ia bernazar, kalau janin yang di rahimnya terlahir suatu hari nanti, maka ia akan menjadi pelayan di rumah ibadah untuk melayani agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Aku tidak ingin anakku menjadi penghamba dunia, dan aku tidak ingin membebani anak-anakku dengan kepentingan dunia. Aku ingin anakku merdeka sepenuhnya hanya menghamba kepadaMU,” ujar Ustaz Bachtiar menirukan ucapan Hannah.

Menurutnya, siapapun yang ingin bahagia, kuncinya adalah selalu ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Bertobatlah setiap hari. Rasul menjadikan tobat sebagai gaya hidupnya. Bahkan Rasul bertobat 70 kali dalam sehari, membaca istigfar 100 kali dalam satu hari. Harusnya kita bertobat lebih sering dari Rasul, karena kita lebih sering berbuat dosa. Harusnya kita beristigfar lebih banyak dibanding Rasul, karena kita sangat memerlukan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada kunci hidup yang paling membahagiakan kecuali senantiasa ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya. [Jay]

Komentari

komentar