Jay | initasik.com
Humaniora

Lalu Bah Umar Membaca Al-Quran Surat Al-Hud Ayat 6


initasik.com, inspirasi | Panas terik yang lumayan menyengat kulit menggiring Bah Umar, 82 tahun, menepi ke sebelah kiri. Istirahat sebentar di depan warung yang tutup. Berteduh. Mengatur napas. Mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras setelah jauh berjalan kaki.

Secara fisik, ia layak dikasihani. Tapi ia tak mau berpangku tangan. Enggan meminta belas kasihan orang. Selama masih bisa bergerak, bergeraklah ia. Menjemput rezeki sekemampuannya. Bertangung jawab pada keluarga. Menafkahi istri dan anak-cucu.

Kendati badannya sudah membungkuk, itu tak membuatnya berhenti mencari nafkah. Menyambut rezeki, meski dengan melangkah pelan. Berjalan puluhan kilometer. Jualan buah-buahan.

Cape mah cape, Jang, tapi da kumaha deui. Butuh jang meuli beas,” ujar Bah Umar saat berbincang dengan initasik.com, di Jl. BKR, Kota Tasikmalaya, Jumat, 26 Mei 2017. Ia mengaku lelah, tapi butuh uang untuk membeli beras.

Warga Nagarakasih, Kelurahan Kersanagara, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, itu sudah tiga tahun berjualan dengan dipikul. Itu yang paling memungkinkan baginya. Kalau didorong cenderung mustahil. Ia bungkuk. Badannya sudah membungkuk. Nyaris 90 derajat.

Sebelumnya kerja di pabrik sandal. Jadi buruh. Lantaran fisiknya melemah, ia tak lagi bekerja di sana. Sebagai suami yang bertanggung jawab, ia tetap harus cari uang. Dipilihlah dagang buah-buahan, seperti mangga, jeruk, jambu dan lainnya.

Sekali jalan, tak banyak buah-buahan yang ia bawa. Hanya sepuluh kilogram. Itu didapatnya dari pasar. Pagi-pagi, sekitar pukul tujuh, ia berangkat ke pasar. Naik angkutan kota. Belanja. Lalu keliling ke manapun ia mau. Menyusuri tiap sudut kota. Pulang ke rumah pukul lima sore.

Meski hanya bawa barang sepuluh kilogram, itu tidak habis dalam satu hari. Besoknya baru habis. Tak heran, uang yang dibawa pulang ke rumah tidak besar. “Cukup jang meuli beas mah,” kata suami Isoh dan ayah enam anak itu.

Ditanya apakah tidak pernah berpikir untuk pindah usaha lain yang tidak menguras tenaga, Bah Umar geleng kepala. Ia mengaku bingung harus usaha apa. Keterampilan pun tak punya. Jualan adalah solusinya, meski harus bersusah payah.

“Perjuangan tanpa pengorbanan tidak akan sampai tujuan. Tiap perjuangan harus dibarengi pengorbanan,” tandasnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Kata perjuangan sepertinya memiliki arti khusus baginya.

Selama berbincang dengannya, hanya kali itu ia berbicara pakai bahasa Indonesia. Meski tidak lancar, tapi ia bahagia saat mengucapkannya. Sampai tertawa terbahak. Gigi ompong dan lidahnya yang putih pucat jelas kelihatan. Sepertinya ia tidak sehat. Punya penyakit yang tidak dirasa. Terlihat dari warna lidahnya.

Dengan berjualan, ia mengaku sedang berjuang. Sedang berkorban demi keluarga. Lalu ia membaca Al-Quran surat Al-Hud ayat enam. Pakai bahasa Arab. Lagi-lagi, terbata-bata. Kurang jelas terdengar, tapi paham apa yang diucapkannya.

Saat diminta jelaskan artinya, ia menjawab, setiap makhluk yang bergerak di bumi ini rezekinya sudah dijamin Allah Subhanhu wa Ta’ala. “Asal aya ikhtiar. Ulah cicing. Alhamdululillah aya wae rejeki mah,” akunya tertawa lebar. Gigi ompong dan lidahnya yang putih pucat jelas kelihatan. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?