Informasi

Larang Ojek Daring Beroperasi, Wali Kota Tasik Imbau Ojek Pangkalan Daftar Ojek Daring

initasik.com, informasi | Pemkot Tasikmalaya telah dua kali mengeluarkan surat edaran terkait keberadaan angkutan berbasis dalam jaringan (daring) alias online. Pertama, tanggal 15 Januari 2018. Kedua, 17 Januari 2018.

Isinya nyaris sama. Namun ada sedikit perubahan dalam poin dua. Dalam Surat Edaran Nomor: 551.21/151/Dishub dijelaskan, untuk sepeda motor berbasis online tidak boleh mengangkut penumpang orang, kecuali angkutan barang.

Sedangkan dalam Surat Edaran Nomor: 551.21/152/Dishub diubah menjadi pengusaha/pengemudi sepeda motor online tidak boleh beroperasi sebelum adanya ketentuan yang mengatur sepeda motor sebagai angkutan online.

Selang dua hari dari surat edaran kedua, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengimbau para ojek pangkalan untuk daftar ke ojek daring. Hal itu disampaikannya dalam rapat evaluasi dan optimalisasi penerbitan KTP elektronik, di aula bale kota, Jumat, 19 Januari 2018.

“Di kelurahan banyak ojek pangkalan. Dorong mereka menjadi ojek online. Ulah alergi. Tidak mungkin menghindari. Apalagi pemerintah sampai hari ini tidak punya kewenangan mengatur roda dua. Tidak ada. Payung hukumnya tidak ada. Kalau bicara ilegal, semua juga ilegal. Semua juga tidak berizin,” tutur Budi.

Untuk itu, ia meminta para lurah melakukan sosialisasi kepada para pelaku ojek konvensional agar tidak berpikiran negatif terhadap keberadaan ojek daring, tapi harus bisa memanfaatkannya.

“Harapan kami, adanya teknologi ini kita manfaatkan. Saya mengimbau, teman-teman ojek pangkalan menggunakan aplikasi itu. Saya yakin akan menambah pendapatan. Kita manfaatkan teknologi,” tandasnya.

Ditanya apakah imbauan tersebut berarti membolehkan ojek daring beroperasi lagi, Budi menjawab, “Apakah Anda juga bisa melarang ojek pangkalan? Kalau bicara aturan, kan ojek pangkalan juga tidak berizin. Sama. Hanya ini sebagai penghargaan, karena sudah lama merintis dan sebagainya.”

Sementara itu, Parid Hidayat, 60 tahun, ojek pangkalan yang biasa mangkal di daerah Pasar Lama, mengatakan, dirinya bukan tidak ingin daftar ke ojek daring. Masalahnya, ia tidak mempunyai telepon seluler yang memadai dan motornya keluaran tahun lama.

Sejak ada ojek daring, ia mengaku penghasilannya menurun drastis. Sering juga tidak dapat penumpang. “Tapi dua hari kemarin, waktu ada demo angkot, alhamdulillah sehari dapat Rp 100 ribu. Sekarang sepi lagi,” ujarnya tersenyum kecut. [Jay]