Inspirasi

Leo: Melukis Itu Melatih Kesabaran

Kota Tasik | Perempuan berkerudung itu duduk manis di bangku bambu. Sendirian. Senyumnya mengembang. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Tersenyum. Ia tak boleh banyak bergerak. Maklum, orang-orang yang ada di hadapannya sedang fokus membuat sketsa wajahnya.

Mereka yang tergabung dalam Komunitas Sketsa Tasikmalaya, malam itu, sedang menarikan pensil di atas kertas putih. Mengguratkan pensil dengan halus agar gambar yang dihasilkan terlihat sempurna. Perlahan, kertas putih yang semula polos terisi oleh wajah perempuan yang masih duduk manis di bangku bambu itu. Mirip. Namun ada juga yang hasilnya masih perlu polesan lebih apik lagi.

Ruslan Aryandinata, 35 tahun, penggagas Komunitas Sketsa Tasikmalaya, mengatakan, untuk membuat sebuah sketsa yang bagus diperlukan banyak komponen yang saling melengkapi, terlebih jika gambar yang dibuatnya merupakan objek bergerak. “Melukis itu melatih kesabaran, merangsang imajinasi dan kreativitas,” ujarnya dalam satu kesempatan.

Pria kelahiran 18 Agustus 1979 yang lebih dikenal dengan nama Leo itu menyebutkan, Komunitas Sketsa Tasikmalaya didirikan pada 16 Agustus 2012. Sekretariatnya di Jl. Seladarma, Kota Tasikmalaya. “Motivasinya biar banyak teman menggambar. Hehehe… Tapi sebenarnya kita ingin anak-anak muda Tasik punya wadah berkegiatan positif, bukan hanya nongkrong di cafe,” tuturnya.

Menurutnya, siapapun bisa bergabung di komunitasnya. Sanggar terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar menggambar. “Mudah tidaknya membuat sketsa itu kembali ke keseriusan kita untuk belajar,” ujar Leo yang menjadi satu dari 17 sketchers yang berhasil membuat 1.945 sketsa wajah dalam waktu delapan jam. Dan itu masuk rekor MURI. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar