Informasi

Lingkungan Hidup di Jawa Barat Kian Rusak

initasik.com, informasi | Kondisi lingkungan hidup di Jawa Barat kian rusak. Dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Kawasan kart semakin memprihatinkan. Kondisi air memburuk, karena limbah pabrik. Begitupun dengan kualitas udara. Banyak hitan ditebang dan hutan dialihfungsikan menjadi lahan pertambangan dan lainnya.

“Kita sedang berhadapan dengan situasi lingkungan yang rusak. Kalau dihitung 3,7 juta hektar luas wilayah Jawa Barat, 1/7 sudah dialokasikan untuk pertambangan. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, ada 79 Izin Usaha Pertambangan  tambang, seperti di Pancatengah, Bantarkalong, Cikatomas, kemudian di Sukaraja,” tutur Dadan Ramdan, direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, dalam Seminar Lingkungan Hidup yang digelar BEM Universitas Siliwangi, di gedung rektorat, Jumat, 11 Mei 2018.

Terkait kawasan karst, Kabupaten Tasikmalaya merupakan yang terbanyak di daerah Jawa Barat. Namun, dalam mengeluarkan izin pertambangan ada di peringkat keempat. “Kita punya kawasan geologi yang diproses jutaan tahun lalu, sekarang mau dimusnahkan dengan ditambang untuk dijadikan industri semen. Padahal jelas fungsi kawasan karst sangat banyak, utamanya sebagai penyimpanan candangan air,” paparnya.

Kalau melihat tren bencana dalam tiga tahun terakhir, angkanya menunjukkan peningkatan. Di tahun 2015 masih di angka 555 bencana, tapi 2017 sudah 1.121 dengan bencana longsor, banjir, kekeringan, angin puting beliung, pergerakan tanah, dan juga gempa.

Berdasarkan RTRW Jawa Barat, lanjut dia, Kabupaten Tasikmalaya memiliki sekitar 25.274, 2 hektar kawasan perlindungan geologi, termasuk kawasan karst. “Kalau mau dirusak silakan. Apalagi sudah diizinkan untuk dieksplorasi, yang lebih tepatnya dieksploitasi oleh PT Purimas Sarana Sejahtera dan PT Semen Pajajaran. Silakan. Nanti kita akan menghadapi bencana yang besar,” sindirnya.

Menurutnya, kalau kawasan karst dirusak, tidak akan terhitung jumlah mata air yang akan hilang. Untuk itu harus sesegara mungkin menginventarisir segala sesuatu yang ada di kawasan karst.

“Sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi, soalnya mereka punya uang untuk menyuap bupati, gubernur, membayar preman dan kepala desa. Kalau terus-terusan ditambang dan digali, lingkungan kita akan rusak, hancur, dan habis,” tandasnya. [Millah]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentari

Komentari