Inspirasi

Mamat Ruhimat, Koran, dan Institut Teknologi Bandung

Kota Tasik | Baru saja sampai di rumah pelanggannya, Mamat Ruhimat,49 tahun, langsung disergap pernyataan yang membuat mukanya merah padam.”Mat, saya sudah baca beritanya tadi Subuh. Itu koran kok baru datang? Saya sudah baca di media dotcom (portal berita),” ujar Mamat menirukan ucapan pelanggannya.

Mendengar itu, ia tersenyum malu. Loper koran yang merintis usahanya sejak 1982 itu hanya menjawab sekenanya. Toh, koran itu tetap diambil pelanggannya. Namanya juga pelanggan. Perlu atau tidak, koran tetap dikirim.

Mamat bersyukur masih punya pelanggan setia seperti itu. Bagi suami Pipin Erfina dan ayah tiga anak itu, pelanggan adalah bahan bakar yang mendorongnya untuk tetap beredar mengantarkan koran. Kendati penjualan koran tidak sebergairah dulu, Mamat tetap semangat. Meskipun pelanggannya tinggal 200-an dari 450 orang, ia maju terus. “Berat jika saya harus meninggalkan usaha ini. Dari jualan koran, saya bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak,” ujarnya kepada initasik.com, dalam satu kesempatan.

Ia bercerita, saat berjualan koran di rumah sakit, Mamat “jatuh cinta” pada perawat. Sejak saat itu ia menanam mimpi. Anaknya harus jadi perawat. Tiap hari ia menabung Rp 10.000 untuk menguliahkan anaknya. Mimpinya harus terwujud.

Dan, anak pertamanya, Sinta Santika, kini sudah menjadi perawat di RSUD dr. Soekardjo. Doa Mamat terkabul.  Mimpi Mamat semakin mekar ketika anak keduanya, Edis Abdul Jabbar, menamatkan sekolahnya di SMAN 1 Tasikmalaya. Edis diterima di Institut Teknologi Bandung. Hebatnya, ia masuk tanpa tes. Dapat beasiswa. Edis masuk Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan.

Adapun anak bungsunya masih duduk di bangku SMP. “Anak itu amanah.Walaupun saya seorang loper koran yang hanya tamatan SD, saya ingin anak-anak sekolahnya tinggi,” ucap warga Cianjur Kidul, Kelurahan Gunung Tandala, Kawalu, Kota Tasikmalaya, itu. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar