Inspirasi

Manis Pahit Dudi Mengelola Taman Bacaan Masyarakat

Kabupaten Tasik | Pahit manis mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sudah dirasakan Dudi Rohdinulhaq, pendiri TBM Cukang Ilmiah, di Cukangkawung, Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya.

Sejak 2007 ia mulai merintis pojok baca. Di tempat usahanya, ia menyediakan buku yang boleh dibaca siapa saja. Jumlah bukunya cuma sembilan buah. Waktu itu memang tidak resmi sebagai pojok baca. Dudi menyediakan buku-buku itu hanya sebagai pelangkap di kios service komputer miliknya. Itu di Pasar Sodonghilir.

Seiring berjalannya waktu, ia membuat TBM di rumahnya. Karena digarap lebih serius, pasang surutnya mulai terasa. Koleksi bukunya semakin bertambah, namun bertambah pula tantangannya.

“Tak mudah memang untuk mengajak masyarakat membiasakan membaca. Perlu usaha yang terus-menerus disertai ketulusan. Mendirikan TBM itu gampang. Yang sulit adalah menjaganya agar tetap hidup. Yang paling sulit itu menumbuhkan relawan, yaitu orang yang benar-benar rela untuk menjalankan gerakan sosial ini,” tuturnya.

Untuk menarik masyarakat ke TBM Cukang Ilmiah, Dudi punya strategi. Salah satunya menggelar diskusi atau bedah literasi. Buku yang dibedah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya tentang bagaimana membuat produk teh yang inovatif, sehingga nilai jualnya lebih tinggi.

“Kita bergerak dengan TBM Cukang Ilmiah ini karena ingin masyarakat berubah. Pengetahuan dan keterampilannya harus berubah. Mereka harus lebih maju. Membaca buku tentu menjadi salah satu pintu masuk menuju perubahan,” papar pria yang kini jadi pengawas SMP di Kabupaten Tasikmalaya itu.

Suami Dedeh Nurjamilah dan ayah lima anak itu menambahkan, sebelum dan sesudah ada TBM Cukang Ilmiah terlihat ada perubahan di masyarakat. Perubahan pola pikir utamanya, meski itu belum signifikan.

Selain merawat TBM Cukang Ilmiah, Dudi juga tengah membina bakal TBM di daerah lain. Ia berencana membuat hutan literasi di Ciakar Desa Leuwidulang, ujung Sodonghilir. Program lainnya adalah membuat pos baca dan rompi baca.

Program-program itu, kata Dudi, merupakan salah satu cara agar TBM yang didirikannya tetap bertahan dan terus berkembang. Saat ini, koleksi bukunya sudah mencapai 1.300 judul. “Ada sumbangan buku dari perpusataan desa. Jadi, di kantor desa tidak ada perpustakaan. Bukunya dipindah ke sini,” sebutnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar