Syarif Hidayat | Jay/initasik.com
Informasi

Mantan Wali Kota Tasik Ceramah Penuh Canda Sarat Isi


initasik.com, informasi | Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Syarif Hidayat, tak henti-hentinya membuat tertawa hadirin saat berceramah dalam pertemuan Dede Sudrajat, wakil wali Kota Tasikmalaya dengan para PNS dan beberapa pejabat struktural, di kompleks kediamannya di Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 8 November 2017.

Dari awal sampai akhir ceramah, Syarif melontarkan guyonan-guyonan yang mengocok perut. Ada juga yang bernada sindiran. Misalnya saat menyapa para PNS. “Para pejabat SKPD. Dulu OPD, sekarang SKPD, ya? Ah naon we da tetep eta-eta keneh. Gajihna kitu, kalakuanna oge kitu. Dulu PNS, sekarang ASN. Tetep we kitu,” selorohnya.

Dalam kesempatan itu ia mengaku dirinya sudah tua, namun kaya raya. Menurutnya, mereka yang sudah melewati usia 60 tahun banyak kekayaannya. Rambut jadi perak beruban, gigi jadi emas karena kuning, di lambung banyak gas sehingga sering kentut, di empedu ada pasir, di ginjal ada batu, jantung dipasangi ring, kaki juga jadi tiga dengan tongkat.

Hidup itu seperti menyeberang jalan. Hanya sebentar. Atau seperti seorang pengelana yang berteduh di bawah pohon kemudian berangkat lagi. Begitulah hidup. Isilah dengan hal-hal baik. Kalau sudah mati, hilanglah nama.

“Syarif Hidayat mati, nama saya hilang. Mereka tidak akan menyebut nama kita, tapi mayat. Kapan jenazahnya akan dikubur, bukan kapan Syarif akan dikubur. Saat meninggal, hilanglah nama kita dan segalanya. Aya hayam nanyakeun ka indungna, kunaon jelema loba ngaranna? Aya Syarif, aya Hidayat, aya Farhan. Ku indungna dijawab, tenang, jang. Mun urang geus paeh, ngaran urang jadi loba. Aya bubur ayam, aya mi ayam, aya sate ayam, aya nu lain-lainna,” tutur Syarif disambut tawa hadirin.

Menurutnya, dalam hidup ini tidak ada yang harus dibanggakan, karena semuanya akan ditinggalkan saat meninggal dunia. Jangan bangga ketika punya banyak mobil, karena saat wafat yang dibutuhkan hanya keranda. Itupun pinjam ke masjid. Semegah apapun rumah yang dimiliki, tempat peristirahatan terakhir adalah tanah.

“Uang sebanyak apapun tidak akan dibawa mati. Tidak ada jenazah yang kain kafannya pakai saku. Di dunia ini kita hanya punya jabatan, teman, keluarga, dan amal. Amal yang harus selalu kita beri perhatian, karena itu akan dibawa sampai mati dan menjadi penentu nasib di kehidupan selanjutnya,” papar wali Kota Tasikmalaya periode 2007 s.d. 2012 itu. [Jay]

 

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?