Peristiwa

Masalah Sosial Stadium Membahayakan

Kota Tasikk | Sebutan kota santri, kata Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, masih layak disandang kota ini. Jumlah pesantren dan santrinya banyak. “Ini harus jadi motivasi kita dalam membangun,” katanya saat beraudiensi dengan para ulama di aula bale kota, Senin, 23 November 2015, lalu.

Selain banyaknya jumlah pesantren, namun ada fakta-fakta lain yang dalam sisi jumlah masuk kategori ter, yaitu angka kemiskinan tertinggi se-Jawa Barat, pengidap HIV/AIDS nomor satu di Priangan Timur, peredaran narkoba, jumlah wanita tunasusila, gay, lesbian, dan masalah sosial lainnya.

“Masalah sosial di Kota Tasikmalaya ini sudah masuk stadium membahayakan,” ujar Asep M Tamam, pemerhati sosial Kota Tasikmalaya, melalui sambungan telepon, Jumat, 4 Desember 2015. Namun, ia menyesalkan kebijakan anggaran yang tidak terfokus pada penuntasan masalah-masalah tersebut.

Pengurangan anggaran untuk penanggulangan penyandang masalah kesejahteraan sosial, misalnya, adalah salah satu bentuk kebijakan yang ngawur. “Itu sebuah anomali kebijakan. Tidak bisa diterima akal sehat. Memalukan,” tandas dosen IAIC Cipasung dan beberapa perguruan tinggi itu.

Ia menegaskan, masalah-masalah sosial di kota ini sudah sangat rawan, dan membutuhkan perhatian serius. Harus ditanggulangi secara komprehensif dan ditunjang anggaran yang ideal. Perda-perda yang di dalamnya mengatur soal tatanan sosial jangan hanya dijadikan pajangan. initasik.com|shan

Komentari

komentar