Peristiwa

“Masalahna Saya mah Bukan 50 Jutana, Tapi Koordinasina Kudu Bener”

Kota Tasik | “Lanjut. Cipta Karya. Kegiatan di perubahan ini besar. Optimis, Pak?” tanya Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, dalam papar kinerja di aula bale kota, Selasa, 8 Desember 2015.

“Insya Allah, Pak,” jawab Kadis Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan, Yono S Karso. “Perlu kami laporkan, kegiatan di Cipta Karya itu untuk anggaran 2015 paketnya ada 518, dari anggaran murni dan perubahan. Dari 518 ini yang perlu kami laporkan kepada Bapak ada satu kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan, yaitu DED pasar Cibeureum, karena tanahnya belum ada. Besar anggarannya Rp 50 juta, memang tidak besar.”

“Kehela! Kan dasar eta..Bappeda…Ari pasar teh di bawah saha eta? Itu tanahnya memang belum? Itu teh anu rencana terminal Awipari tea, kan?” sela Budi.

“Mohon izin, Pak. Kami juga pernah ikut rapatnya. Bukan karena masalah asetnya, cuma harus ada kajian yang jelas tentang penggunaan bersama terminal itu apakah disepakati digunakan untuk pasar, itu harus  ada kajian dulu dari Dishub. Kalau statusnya sudah jelas, terminal itu aset pemkot,” jelas Kabag Hukum Hanafi.

“Itu harusnya dari awal sudah dikaji. Nanti masuk di murni, ngga?” timpal Budi.

Suasana mulai berubah. Budi sudah menaikkan nada bicaranya. Suaranya meninggi. Mimik mukanya tak nyaman.

Kepala Bappeda Tarlan lantas menjelaskan, “Tahun 2016 dan 2017 itu titik beratnya di ekonomi. Oleh karena itu di 2015 Bappeda merencanakan di tahun 2015 itu kita bikin DED untuk pasar, salah satunya Cibeureum. Sekarang kan terminalnya kurang hidup. Kalau di situ dipaketkan pasar dan terminal, ini akan saling menunjang.”

“Ya sebentar, Pak Bappeda. Kabag Hukum, ari kajian kitu kan cukup ku Dinas Perhubungan?” ujar Budi memotong penjelasan Tarlan. “Kenapa sekarang alasannya kajian? Teu bisa dilaksanakeun? Sok nanya saya. Sapuluh hari bisa nyieun kajian  nu kitu?”

“Itu penggunaanya untuk terminal, Pak. Apabila mau ditambahkan pasar di dalamnya, sedangkan status penggunaan awalnya untuk terminal, itu harus ada kajian dulu apakah akan menganggu atau tidak,” jawab Hanafi.

“Saya sudah paham. Saya paham ini harus ada kajian. Tapi kenapa kajian ini tidak bisa kita lakukan sebelumnya? Urang kan 2017 ek ngabangun, jadi kaganggu pan eweh kajiannana. Nyieun we atuh tinggal ngariung. Saminggu ge beres. Tim ahli dan orang teknik ada di kita. Sok atuh ngariung, kajian-kajian nu kitu wae. Di dieu ge ngarti kajian mah, tapi kunaon teu dilaksanakeun?” cecar Budi dengan volume meninggi. “Ini dari anggaran murni atau perubahan, saya ingin tahu, Pak kadis?”

“Perubahan, Pak,” jawab Yono.

“Tuh kan ini dari awal harusnya sudah kebaca. Jadi stepnya jelas gitu kan. Kalau kita mau membuat jalan kan dari mulai kajiannya, FSnya dulu, baru nanti DEDnya, Amdalnya semua, setelah itu baru bikin proses pembebasan. Masalahna saya mah bukan Rp 50 jutana, tapi koordinasina kudu bener,” sesal Budi. “Lanjut! 1,7 ini Dinas Pariwisata. Apa nih yang besarnya yang belum?”

Kadis Budparpora, Undang Hendiana, menjelaskan soal anggaran yang belum terserap tersebut, di antaranya untuk acara pekan olahraga kota, pasanggiri, syukur waktu, dan yang lainnya. “Ada juga yang tidak bisa diserap, Pak,” lapor Undang.

“Aya kitu nya? Naon wae?” tanya Budi kaget. Audiens sontak riuh.

“Yang pertama itu, Pak, yang Rp 500 juta itu kan usulan kegiatan kerja sama dengan provinsi, yaitu festival batik internasional.”

“Eta kunaon teu jadi eta?”

“Kegiatan itu sharing provinsi sama pusat. Ternyata setelah dicek, anggarannya di sananya memang tidak ada. Kalau kita siap, Pak.”

“Sekarang kan masih ada waktu?”

“Iya, Pak, tapi kan nomenklatur kegiatannya internasional.

“Ya sudahlah. Ini harus jadi catatan. Kita kan berusaha menggeser kegiatan lain, tapi ari geus dibere teu puguh kieu.”

“Nu teu leres mah ti palih dituna, Pak.”

“Lah geuslah, ek di palih ditu di palih mana ge nu puguh mah teu kaserap. Bukan apa-apa, SKPD Anda ini volumenya kecil. Jelegur teh gope deuih. Engke mah nu teu kaserap teh dicirian.” initasik.com|shan

Komentari

komentar