Peristiwa

Masjid Agung Jadi Rumah Kedua Pengemis

Kota Tasik | Masjid Agung Kota Tasikmalaya rupanya telah menjadi rumah kedua bagi para gelandangan dan pengemis (gepeng). Mereka tidur, mandi, dan cuci baju di masjid yang menjadi salah satu ikon kota tersebut. Jemur pakaian pun di lingkungan masjid.

Asep Sutiawan, 45 tahun, misalnya. Ia mengaku sudah dua tahun suka tidur di teras masjid. Ia bersama istri dan anaknya yang baru berusia 1,5 tahun telah menjadikan Masjid Agung sebagai rumah kedua. “Dua minggon sakali uih ka Ciawi (Kabupaten Tasikmalaya),” ujarnya kepada initasik.com, belum lama ini.

Di Ciawi itulah rumah sebenarnya mereka. Masjid Agung dijadikannya “penginapan” agar menghemat uang. Setiap hari istri Asep mengemis di sepanjang Jl. KH. Zainal Musthafa. Sementara Asep menjaga anak. “Pami nuju aya milik mah sok dugi ka Rp 50 rebu sadinten, tapi kadang sok kenging Rp 20 rebu atanapi Rp 30 rebu,” jawabnya saat ditanya penghasilan dari mengemis.

Uang sebesar itu didapat istrinya hanya empat jam. Ia mengemis mulai pukul 08:00 WIB sampai dzuhur. Setelah itu mereka bermain di halaman masjid. Kadang, istrinya mengemis lagi. Asep menyebutkan, kalau malam hari banyak juga orang yang suka tidur di teras masjid. Bukan hanya pengemis. Para pedagang atau warga lain yang kemalaman pun sering tidur di masjid.

Ketua Bidang Riayah DKM Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Tubagus Oom Abdurrahman, menyanggah kalau masjid kebanggaan warga Tasik itu sering dijadikan tempat istirahat para gepeng. “Kami larang keras itu. Setiap malam ada dua petugas keamanan yang berjaga di sini. Pengurus DKM melarang keras kepada gelandangan untuk tidur di masjid. Itu merusak pemandangan,” tandasnya, Selasa, 3 Maret 2015.

Namun, pihaknya mengaku tidak bisa setiap waktu memantau masjid, terutama di malam hari. “Papinter-pinter atuh da. Diusir aya deui aya deui. Idealnya dibantu petugas khusus, baik dari Satpol PP atau dari Dinas Sosial,” harapnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar