Edukasi

Masjid SMPN 1 Puspahiang Dibangun dengan Uang 500 Perak

Kabupaten Tasik | Tak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan. Selama masih berusaha dibarengi doa, apapun bisa diselesaikan. Kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Tak cukup hanya mengandalkan otot. Perlu sinergi otak. Bila keduanya sudah menyatu dan berjalan seirama, apapun bisa dihadapi.

Para siswa SMPN 1 Puspahiang telah membuktikannya. Dengan uang lima ratus perak mereka bisa membangun masjid sekolah. Jangan anggap sepele dengan koin Rp 500. Di sekolah ini uang tersebut telah menjadi simbol solidaritas. Mereka satu suara untuk membangun masjid.

Sebanyak 808 orang pelajar dengan sukarela menyisihkan lima ratus rupiah dari uang jajan untuk mendirikan tempat ibadah. Alhasil setiap hari terkumpul Rp 404.000. Mereka melakukan itu selama tujuh bulan. Hingga akhirnya berdirilah masjid yang menawan.

Gerakan yang diprakarsai Drs. Jumiyati, guru Pendidikan Agama Islam, itu berawal dari keprihatinannya atas kondisi masjid yang sudah ada. Jumlah siswa di sekolah tersebut banyak, tapi masjidnya cuma berukuran 5 x 7 meter. Kondisinya kurang terawat. Terlebih posisinya berada di belakang sekolah.

Diskusi pun dilakukan. Dukungan mulai membanjiri, baik dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Semua sepakat untuk rereongan. Para pendidik rela menyisihkan gaji bulanannya. Tak terkecuali. PNS ataupun honorer sama.

Tidak mau ketinggalan, para siswa ingin ikut andil dalam gerakan lima ratus rupiah. Setiap hari mereka mengumpulkan melalui kordinator masing-masing kelas. “Semuanya bergerak sukarela. Tidak ada paksaan,” tandas Yayat, panggilan akrab Drs. Jumiyati.

Diawali dengan peletakan batu pertama, gerakan membangun masjid dimulai. Selama tujuh bulan, masyarakat SMP Negeri 1 Puspahiang bahu-membahu mengumpulkan dana. “Dengan gotong royong, yang sulit menjadi mudah,” yakinnya.

Kini, sekolah punya masjid bagus. Berada di depan kantor yang berhadapan langsung dengan pintu utama sekolah, masjid itu menjadi wajah cantik SMP Negeri 1 Puspahiang. Mukanya sekolah. Dan tentu saja sebagai pusat kegiatan keagamaan.

“Dengan konsep pendidikan berbasis agama di Kabupaten Tasikmalaya saat ini, tentunya masjid merupakan salah satu pendukungnya. Oleh karena itu, peranan masjid di sekolah sangat diperlukan,” jelasnya. initasik.com|Ahmad/Ena

Komentari

komentar