Birokrasi

Masyarakat Diminta Berpartisipasi Aktif dalam Penanggulangan Bencana

Kabupaten Tasik | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Oktober 2011, merilis indeks daerah rawan bencana di Indonesia. Dari 497 kabupaten di Indonesia, Kabupaten Tasikmalaya menempati peringkat kedua.

Penilaian itu bukan tanpa alasan. Wilayah Kabupaten Tasikmalaya memiliki kondisi geografis, geologis, dan demografis yang rawan bencana. Kecamatan Cipatujah, Karangnunggal, dan Cikalong, misalnya, merupakan daerah yang rawan terkena tsunami.

Lima kecamatan berada di sekitar Gunung Galunggung, yaitu Kecamatan Sukaratu, Cisayong, Padakembang, Leuwisari, dan Kecamatan Sariwangi. Gunung berapi itu masih aktif. Sedangkan daerah lainnya berada di perbukitan dan pegunungan yang rawan longsor.

Kabupaten Tasikmalaya juga memiliki enam aliran sungai besar, yaitu Cilangsa, Cimedang, Cipatujah, Cikaengan, Citanduy, dan Ciwulan, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi daerah rawan banjir.

“Penanggulangan bencana merupakan kewajiban pemerintah, swasta, dan masyarakat. Saya mengajak kepada para pengusaha khususnya, dan masyarakat pada umumnya untuk berpartisipasi aktif dalam penanggulangan bencana,” ajak Sekda Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Kodir, saat membuka rapat koordinasi penanggulangan bencana, di salah satu hotel di Kota Tasikmalaya, Kamis, 16 Maret 2016.

Menurutnya, apalabila ketiga elemen tersebut, yakni pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bahu-membahu mempersiapkan diri menghadapi bencana, maka akan terwujud Kabupaten Tasikmalaya yang tangguh menghadapi bencana. “Ada peribahasa yang menyebutkan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, demikian pula dalam menanggulangi bencana alam,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya, EZ Alfian, menyebutkan, dari 39 kecamatan di kabupaten, hanya satu kecamatan yang termasuk aman dari ancaman bencana alam, yaitu Kecamatan Sukarame.

Ia merinci, ancaman-ancaman bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. “Ke depan kita akan memasuki musim kemarau. Kita sudah menginventarisir seberapa banyak tangki yang kita miliki, termasuk koordinasi dengan PDAM. Pengalaman tahun sebelumnya, di saat kemarau masyarakat kita sangat membutuhkan air bersih,” ujarnya. initasik.com|sep/adv

Komentari

komentar