Pedagang kaki lima di badan jalan Cihideung, Kota Tasikmalaya | Jay/initasik.com
Sosial Politik

Masyarakat Kota Tasik Sulit Diatur dan Kurang Hiburan


initasik.com, sosial | Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, menilai, masyarakat yang dipimpinnya sulit diatur dan kurang hiburan. Hal itu ia ucapkan saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Multistakeholders Tasikmalaya 2050: Landasan Kritis Menuju Pembangunan Tasikmalaya yang Berkelanjutan, di Hotel Santika, Kamis, 6 Juli 2017.

Ia mencontohkan kasus pedagang kojengkang di Dadaha. Tidak lama setelah pembangunan stadion Dadaha dan sekitarnya selesai, para pedagang memaksa jualan lagi di area jogging. Demonstrasi berkali-kali.

“Pembangunan wilayah Dadaha pabeulit jeng kojengkang. Keukeuh hayang asup deui. Ceuk uing teu menang, teu menang. Saya sampaikan, di sana itu ruang publik. Ruang olahraga. Saya akui, masyarakat hese diatur,” tutur Budi.

Menurutnya, persoalan pedagang kaki lima di Kota Tasikmalaya bukan hal yang mudah untuk dibereskan. Untuk itu, di periode keduanya ia akan memfokuskan pada masalah kebersihan, pedagang kaki lima, lalu lintas dan lainnya. “Sambil berjalan kita benahi,” tandasnya.

Selain sulit diatur, kata Budi, masyarakat Kota Tasikmalaya juga kurang hiburan. Menurutnya, taman kota dekat Masjid Agung yang belum rampung dibangun sudah dipenuhi warga untuk bermain.

“Taman kota dipenuh oleh masyarakat. Jadi ketahuan kalau orang Tasik itu kurang hiburan. Ayun-ayunan tos pejet, padahal karek saminggu. Tapi memang taman itu belum selesai. Rencananya mau dipasangi air mancur,” paparnya.

Ia menyebutkan, pembangunan taman kota yang belum rampung itu baru menghabiskan anggaran Rp 4 miliar dari total Rp 9 miliar. Itu bantuan pemerintah pusat. “Ke depan, taman kota akan kita tata lagi,” imbuh Budi. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?