Informasi

Mayoritas Lulusan Perguruan Tinggi tidak Siap Kerja

initasik.com, informasi | Yudi Cahyadipura, account director perusahaan telekomunikasi nasional, menceritakan pengalamannya saat harus merekrut calon karyawan di tempatnya bekerja.

“Kami menemukan sesuatu yang ironi. Setiap hari kami memanggil orang, wawancara orang, tapi kami mencari yang sesuai itu susahnya minta ampun. Padahal lapangan pekerjaan itu ada,” tandasnya di sela seminar career learning, development, research, and assessment (Caldera) yang digelar ABALOQ Social Development Enterprise, di salah satu hotel di Kota Tasikmalaya, Senin, 18 Desember 2017.

Ia mengaku heran dengan susahnya mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai, atau paling tidak mendekati standar minimal. Menurutnya, klaim kalau perguruan tinggi sudah mencetak mahasisawanya 96 persen untuk siap berkarya perlu diralat.

“Ketika dicek di industri, lembaga pendidikan itu hanya bisa membekali 11 persen mahasiswanya untuk siap berkarya. Kami melihat lulusan frash graduate itu ketika masuk ke kantor bingung harus bagaimana dan berbuat apa,” tuturnya.

Hal itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, dalam rentang tahun 2020 s.d. 2030, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Jumlah usia produktifnya membludak. Dari jumlah total populasi, diperkirakan 70 persennya usia produktif.

Dalam satu tahun akan ada tiga juta sampai delapan juta lulusan baru. Kalau mereka tidak terserap oleh dunia kerja, salah satu dampaknya adalah angka kriminalitas meningkat. “Kami ingin membangun kesadaran teman-teman yang mencari kerja, masalah di depan itu banyak. Persaingan ketat. Tenaga kerja asing masuk Indonesia. Sadarlah, dunia bergerak begitu cepat,” bebernya.

Untuk itu ia meminta para mahasiswa dan pencari kerja bisa mengenali diri sendiri dan meningkatkan kompetensi. Asah juga mental pantang menyerah, sehingga tidak mudah goyah saat dihadapkan pada permasalahan.

Di tempat yang sama, Muhammad Iqbal Zulfikar, public relation ABALOQ, menjelaskan, berdasarkan penelitian, sekitar 87 persen mahasiswa salah memilih jurusan ketika memasuki perguruan tinggi, sehingga bingung setelah lulus harus bagaimana.

“Seminar ini untuk meningkatkan daya saing para calon tenaga kerja. Kita mengajak para peserta untuk berpikir lebih dalam dan mempersiapkan diri lebih cepat menghadapi pertempuran di medan dunia kerja yang sesungguhnya,” tandasnya. [Milah]