Edukasi

Melatih Mengendalikan Emosi dengan Melukis

initasik.com, edukasi | Melukis bukan pekerjaan instan. Perlu waktu dan ruang imajinasi yang tak terbatas. Karenanya, melatih imajinasi dirasakan penting bagi mereka seorang pelukis. Juga melatih kesabaran serta mengendalikan emosi menjadi modal utama agar lukisan hadir sesuai dengan yang diharapkan. Mencerminkan apa yang ada dalam gambar pemikiran.

“Melukis itu proses mengendalikan dan mengolah reaksi terhadap seseorang atau suatu benda. Intinya, belajar mengolah emosi melalui karya. Mengendalikan emosi agar berbuah karya. Jadi ketika kita bisa mengendalikan emosi, maka akan menghasilkan karya, apapun itu bentuknya. Salah satunya lukisan ini, karena melukis adalah luapa emosi,” tutur Asep Aziz Durohman, saat ditemui di rumahnya, di Burujul, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, dalam setiap lukisan apapun itu modelnya, ada pesan yang tersirat di dalamnya mengenai kehidupan, terlebih lukisan yang bersifat abstrak. Soalnya, lukisan itu luapan emosi, semuanya itu akan tergambarkandalam lukisan yang dihasilkan.

Pria yang sudah melukis sejak SMP itu menegaskan, melukis banyak melatih diri dalam menghadapi kehidupan, misalnya melatih kesabaran, ketelitian, kerapihan, dan kedisiplinan. Serta terus berupaya untuk mengembangkan kemampuan, belajar dari banyak orang.

Paling utama, memiliki rasa penasaran terhadap sesuatu, selalu mempertanyakan segala sesuatu. “Awalnya itu penasaran, kenapa orang lain mampu kita tidak. Ini yang jadi modal utama saya bisa melukis. Terus dalam melukis itu sifatnya mengalir saja, jangan terpaku sama konsep yang sudah direncanakan,” ucapnya.

Agar lukisan yang dihasilkan baik, harus bisa mengendalikan emosi, berusaha untuk tenang. Tidak tertekan oleh yang menyuruh, pikiran sendiri maupun orang lain. Dan jangan pernah berharap bahwa karya yang dihasilkan harus dihargai dan dibeli orang.

“Dengan karya manusia akan hidup dan tetap dikenang. Kita harus menghargai setiap karya orang lain, sejelek apapun karyanya itu hasil dari jerih payah dan skill yang dimilikinya. Tidak mudah bagi mereka untuk membuat karya bisa bercerita, kita bisa mengungkapkan sesuatu yang jarang orang lain ketahui. Bisa bercerita lewat karya,” ungkapnya.

Ia mengaku sudah banyak membuat karya lukis, mulai dari lukisan abstrak, sketsa, ukiran, miniatur prasasti, dan sekarang lagi membuat lukisan dari limbah dedaunan. Untuk miniatur, contohnya membuat miniatur papan panjat yang terbuat dari bekas korek api dan kardus bekas dan rumah adat. Adapun ukiran, berupa prasasti peninggal-peninggalan sejarah. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?