Peristiwa

Melihat Lapas Terpadat di Priangan Timur

Kota Tasik | Suasana di kamar 23 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Tasikmalaya sontak riuh saat initasik.com meminta izin mengambil gambar, Selasa, 22 Desember 2015, malam. Para pengisi kamar girang. Dikira akan keberatan, mereka malah sumringah.

Beberapa orang bahkan sengaja menghadap kamera dan memasang gaya dua jari, sementara yang lain menyoraki. Ada juga yang meledek temannya, karena keganjenan di depan kamera. Satu…. dua…. tiga…, dan tawa pun pecah saat lampu blitz kamera menyala.

Bagi mereka, momen seperti itu jarang didapat, sehingga menjadi hiburan tersendiri. Setiap hari, selama berbulan-bulan bahkan sudah bertahun-tahun hiburan hanya itu-itu saja. Terasa monoton. Selain nonton tv, main voli, sepak bola di lapang kecil, atau kumpul-kumpul saat pagi hingga siang adalah cara mereka mengusir bosan.

Tinggal di penjara, meski hanya sementara, siapa mau? Apalagi Lapas Klas II B Tasikmalaya ini sudah kelebihan pengisi. Semua kamar overkapasitas. Kamar 23, misalnya. Seharusnya diisi 11 orang, tapi kini dihuni 26 narapidana (napi).

Sesak. Tempat tidur dibagi dua bagian; atas dan bawah. Yang di bawah, jarak dari lantai ke tempat tidur bagian atas, tingginya sekitar satu meter. Pengap. Semua dilakukan di dalam kamar, termasuk, buang air besar, mandi, dan cuci baju. Tak heran ada beberapa kamar yang aromanya kurang seda. Bau.

“Harus bagaimana lagi, Pak, memang begini keadaannya. Betah tidak betah ya harus betah. Sudah mah di penjara, di dalam kamar sumpek. Bapak kan lihat sendiri,” ujar I, warga Kawalu, Kota Tasikmalaya, napi yang sudah menjalani masa tahanan 1,5 tahun dari vonis 12 tahun.

Bersyukur, kata dia, di dalam lapas banyak kegiatan keagamaan. Tiga kali dalam seminggu ada pengajian. Baca Quran pun rutin setiap hari, sehingga hati tidak ikut-ikutan sumpek. Salat Dzuhur dan Asar berjamaah di aula serbaguna. Kalau Maghrib sampai Subuh di dalam kamar, karena waktu mereka untuk berinteraksi di luar kamar hanya siang hari.

Jadwalnya sudah ditentukan. Pagi, sekitar pukul tujuh sampai pukul satu siang, di luar. Lalu masuk kamar lagi. Waktu Asar keluar lagi untuk berjamaah, sampai pukul lima sore. Keluar kamar lagi besok pagi. Begitu setiap hari.

Kepala Lapas Klas II B Tasikmalaya, Julianto Budhi Prasetyono, menyebutkan, lapas yang dibangun pada 1890 itu sudah mencapai titik krodit. Pengisinya banyak, sementara ketersediaan kamar terbatas. Harus segera pindah ke tempat yang lebih luas.

“Jumlah kamar ada 23. Idealnya diisi 150 orang, tapi sekarang ada 329 napi. Kemarin-kemarin malah sampai 400 orang. Sangat penuh memang. Lapas Tasikmalaya ini merupakan yang terpadat penghuninya di Priangan Timur,” ungkapnya.

Menurutnya, ia sudah sering mengajukan ke Kemenkum HAM, termasuk ke Pemkot Tasikmalaya, agar lapas segera dipindahkan. Namun, sampai saat ini responsnya biasa-biasa saja.

ini juga: Barang Terlarang Masuk ke Lapas, Petugas Terlibat

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dede Sudrajat, dalam satu kesempatan mengatakan, “Dari dulu sudah saya usulkan, tapi kan yang membuat keputusan adalah wali kota. Saya harus tahu diri. Termasuk pertanyaan kapan ditargetkan pindah. Tanyakan itu kepada wali kota,” tuturnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar