Etalase

Melihat Usaha Ijuk Enjang di Cisayong

Kabupaten Tasik | Pria berkaos merah itu tampak piawai menyisir serabut aren pada paku yang ditancapkan ke kayu. Serabut tersebut beberapa kali ditarik-sisir sampai serat-serat ijuk terpisah, dan bisa dipilah antara ijuk pendek dan ijuk panjang.

Ijuk (Injuk, Sunda) pendek itu nantinya dibuat sapu, sedangkan yang panjang untuk tebuan. Disebut tebuan lantaran bentuk ijuk yang diikat seperti tebu. Itu biasanya digunakan tali kapal, karena tahan air garam.

“Tebuan itu untuk ekspor. Tapi saya tidak tahu diekspor ke mana, karena saya mengirimnya ke pengepul di Bandung,” ujar Enjang Sarif, pengusaha ijuk di Desa Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, kepada initasik.com, Kamis, 14 Januari 2016.

Ia mengaku sudah belasan tahun menjalankan usaha ijuknya. Untuk mendapatkan bahan mentah, didapat dari Pameungpeuk, Garut. Satu kilogram ijuk dapat mengasilkan sekitar 3 buah sapu. Dalam sehari, para pengrajin bisa membuat sekitar 300 buah sapu ijuk.

Selain banyak yang membeli ijuk kiloan ke tempat usahanya, Enjang pun mengirimkan sapu-sapu ke pengepul di Cikurubuk. “Banyak yang datang ke sini untuk membeli ijuk kiloan untuk dibuat sapu,” sebutnya.

Ia menyebutkan, harga sebuah sapu ijuk kisaran Rp 3.200. Kalau hanya ijuknya yang sudah disisir, dijual Rp 3.500 per kilogram. Ditanya soal omzet, Enjang menyebut angka Rp 10 juta dalam sebulan. initasik.com|wrd

Komentari

komentar