Feri | initasik.com
Etalase

Melirik Nasib Gitar Listrik Buatan Perajin Lulusan SD


initasik.com, etalase | Pria berambut ikal gondrong itu baru saja selesai mandi. Dengan gaya khasnya, perlahan dia menghampiri initasik.com yang sudah sekitar setengah jam menunggu di rumahnya. Dia adalah Hamim Mukhsin. Akrab disapa Mang Abang.

Warga Citatah, Desa Cijulang, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, itu perajin kayu. Apapun bisa dibuatnya. Mulai teko sampai gitar listrik. Kendati hanya lulusan sekolah dasar (SD), soal kreativitas berani diadu dengan mereka yang bertitel sarjana.

“Ini gitar buatan saya. Bahannya dari mahoni dan galih kayu nangka. Tinggal finishing, tapi sudah pernah dipakai teman saya manggung,” ujarnya sambil memerlihatkan gitar listrik model fender stratocaster buatannya.

Ampli dinyalakan. Gitar buatannya mulai dimainkan. Terdengarlah suara nyaring yang memenuhi ruangan. Sambil menunjukkan kualitas suara gitar listrik buatannya, Mang Abang menjelaskan secara detail proses pembuatan gitarnya tersebut. Mulai dari pemilihan kayu untuk neck dan body sampai dengan pemilihan pick up yang dia pakai.

“Untuk pick up saya cari yang murah saja. Maklum masih ada keterbatasan dana untuk modal pembuatan gitar ini. Kalau kayu, saya pastikan yang terbaik. Kebetulan di sini masih belum terlalu sulit mencari kayu yang bagus,” paparnya.

Dalam proses pembuatan gitar, Mang Abang melakukannya secara manual. Segala sesuatunya dia kerjakan sendiri. Dalam satu bulan paling hanya dua gitar yang dia buat. Selain gitar listrik, Mang Abang juga membuat kerajinan yang lain seperti gitar akustik, teko batok (ceret dari tempurung), sampai dengan bungkus rokok berbahan bambu hitam.

“Saat ini saya lebih fokus membuat bungkus rokok dan teko batok, soalnya bisa dijual ke warga sekitar sini. Kalau gitar saya masih terkendala pasar,” imbuhnya.

Ia menuturkan, keahliannya dalam membuat gitar listrik dan kerajinan kayu lainnya dia pelajari secara otodidak. Belajar sendiri. Biasanya dia meminjam barang yang sudah jadi, kemudian dipelajari dan coba dipraktikkan di rumah.

Di sela wawancara, Mang Abang mengajak initasik.com untuk melihat tempat kerjanya. Sebuah ruangan kira-kira 4×6 meter yang menyatu dengan dapur. Terlihat tumpukan kayu dan beberapa kerangka gitar akustik setengah jadi.

Di beberapa sudut juga terlihat kerajinan bambu hitam dan beberapa kerajinan lain yang hampir rusak. Kesan yang muncul ketika memasuki ruangan itu adalah sebuah keprihatinan. Kreativitas yang sangat luar bisa ternyata belum menemukan tambatan pasarnya.

Ia mengaku pernah beberapa kali mencoba menawarkan produknya ke toko dan pengepul, tetapi selalu gagal. “Dulu pernah produk saya dibawa sampai ke Bandung. Banyak yang tertarik, tapi selalu tidak ada tindak lanjut,” terangnya.

Dengan wajah yang terlihat kesal, Mang Abang bercerita. Pernah suatu ketika, salah satu kenalannya meminta contoh produk untuk dijual di luar kota. Dia tertarik dan mulai membuatkan contoh. Bukannya mendapat pesanan, contoh produk yang dia titipkan pun tidak pernah kembali. Barang hilang, modalpun melayang.

Pemasaran menjadi kendala utama dalam mengembangkan produk-produknya. Jangankan gitar, bungkus rokok dan teko batok pun sulit menjualnya. Beberapa kali Mang Abang mencoba mengganti produk kerajinannya, mulai dari kursi bambu, mimbar masjid, sampai sangkar burung. Tapi lagi-lagi, terkendala pemasaran.

Ia berharap pemerintah daerah bisa memerhatikan nasib para perajin kecil seperti dirinya. Bukan hendak meminta modal, tapi keseriusan pemerintah daerah dalam membuka pasar bagi para perajin kecil. Di era ekonomi kreatif, sejatinya nasib orang-orang seperti Mang Abang bisa menjulang. “Kami ingin mengembangkan potensi. Jika ada kemajuan, akan banyak anak muda yang tertarik menjadi perajin,” yakinnya.

Dulu, iapun sempat mengajak anak-anak muda di kampungnya untuk membuat sangkar burung. Sudah berjalan beberapa bulan, tapi tidak berlanjut. Pasarnya belum bisa ditembus. “Mudah-mudahan pemerintah bisa melihat nasib perajin seperti kami,” harap Mang Abang. [Feri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?