Mama Kudang saat dijenguk Soekarno, 1946 | Dok. Soekapoera Institute
Sosok

Membuka Halaman Pengantar Biografi KH Muhammad Soedja’i; Mama Kudang

initasik.com, sosok | Tak mudah mendapatkan referensi biografi KH Muhammad Soedja’i, pendiri pondok pesantren pertama di Tasikmalaya. Kendati beliau seorang ulama besar, namun catatan tentangnya tak banyak tersebar.

Dalam buku Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, misalnya, Prof. Nina Lubis dkk tidak menulis khusus tentang siapa dan bagaimana perjalanan hidup ulama yang dikenal dengan sebutan Mama Kudang itu.

Kalaupun namanya ditulis, itu hanya sepintas. Misalnya dalam ulasan tentang KH Ahmad Sanusi, pendiri Pesantren Samsul Ulum Gunung Puyuh, Sukabumi, yang didirikan pada 1934. Disebutkan, sewaktu remaja Ahmad pernah menimba ilmu di pesantren Kudang.

Begitupun dalam bab Riwayat Para Kiai Terkemuka dan Perkembangan Tarekat di Tatar Sunda. Nama KH Soedja’i tak tercantum dalam deretan biografi tokoh. Ulama dari Tasikmalaya yang ditulis dalam bab itu adalah KH Abdullah Mubarrok pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dan KH Zainal Musthafa.

Siapa Mama Kudang mulai terbaca jelas dalam jurnal “Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya” yang disusun Soekapoera Institute. Dijelaskan, Bupati Wiratanoeningrat mendirikan perkumpulan alim ulama dalam “Idharu Bijatil Muluki wal Oemaro” yang beranggotakan 1.350 orang kiai.

Tujuan didirikannya perkumpulan tersebut adalah agar para kiai dan ulama bersatu dalam satu wadah, agar mampu silih asah, silih asih, silih asuh. Perhimpunan Idhar dipimpin oleh kiai kharismatik yang disegani oleh kalangan ulama dan santri Tasikmalaya, yaitu Mama Kudang.

Pada 1925, ajengan-ajengan Idhar bermetamorfosis menjadi Perhimpoenan Goeroe Ngaji (PGN) yang kemudian menerbitkan karya jurnalistik pertama berbentuk majalah Islam bernama Al-Imtisal.

Nama-nama kiayi idhar yang menjadi motor dalam penerbitan majalah ini adalah H.M. Soedja’i, H.M. Djarkasi (Kiai Djadjaway), H.M. Pachroerodji (Kiai Sukalaya), R.H. Adjhoeri (Kaum Manonjaya), R.H.M. Saleh (Kiai Babakan Sumedang), R.H. Abdoel madjid (Kiai Mangunreja), H.M. Bakri (Kiai Cikalang), H.M. Haetami (Kiai Ciawi), R.H.M. Moestopa (Kiai Banjar).

Pada 1933, di antara tokoh PGN menggagas terbitnya majalah al-Moechtar dengan lingkup jaringan se-Priangan sampai Batavia. Nama tokoh Tasikmalaya yang muncul dalam gerakan intelektual ini adalah H.M. Tajoedin (guru madrasah al-Hidayah Sukalaya), R.H.M. Aon (Ajengan Mangunreja), H.Z. Hasan (Ajengan Mancogeh), R. Ahmad Hidayat (Ajengan Cikoneng), H. Abdoel Goffar (Ajengan Ciroyom Tasikmalaya), Haroen ar-Rasjid (guru sakola Bahrain Tasikmalaya), H.M. Sobandi (Ajengan Panumbangan), dan H.M. Bakri (Ajengan Cikalong Tasikmalaya).

Sayangnya, catatan utuh tentang ulama besar itu sulit didapat. Sekadar untuk mengetahui tanggal lahirnya saja, misalnya, tidak ada yang tahu pasti, termasuk para keturunannya. KH Dadang Habib Suparhan, buyut Mama Kudang, mengatakan, keluarga tidak memiliki catatan detail tentangnya, selain lahirnya di hari Senin. Usianya diperkirakan antara 120 tahun – 130 tahun. Meninggal dunia pada April 1966, hari Jumat, setelah Idul Kurban.

Kiai Dadang menyebutkan, alasan sulit dilacaknya sejarah Mama Kudang mungkin terkait dengan wasiat Mama yang tidak ingin dirinya dipuja-puja. “Dulu, saat masih sekolah, saya pernah baca buku sejarah bahwa Mama Kudang ditunjuk sebagai ketua pertama Konstituante,” ujar Dadang saat berbincang dengan initasik.com, dalam satu kesempatan.

Ia menyebutkan, Mama Kudang merupakan putra dari pasangan H. Abdul Rahman dan Hj. Siti Layyimah. Semasa hidupnya, beliau sering berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting di era awal negeri ini berdiri, mulai Soekarno hingga Kartosuwiryo. “Kata sebagian orang tongkat kepresidenan yang dibawa-bawa Soekarno pemberian Mama Kudang,” ujarnya.

Banyak cerita menarik lainnya yang diutarakan Kiai Dadang. Misalnya soal kisah Mahpud, seorang pedagang pakaian. Ia biasa jualan saat pengajian mingguan Mama Kudang. Ngampar. Jamaah pengajian yang kala itu jumlahnya ribuan menjadi magnet bagi para pedagang.

Dalam satu kesempatan, Mama Kudang bilang ke Mahpud bahwa suatu saat dirinya bakal jadi orang kaya. Tidak akan lagi jualan pakaian dalam. Berkat izin Allah SWT, ternyata benar. Mahpud jadi orang kaya raya. Dia lebih dikenal dengan sebutan Haji Engkud (alm), pemilik Mayasari Bhakti Utama.

Perlu penggalian khusus untuk mengetahui secara utuh tentang Mama Kudang. Ibarat buku, tulisan ini baru halaman pengantar. Masih banyak halaman yang harus diisi untuk menjelaskan siapa dan bagaimana saja kiprah Mama Kudang semasa hidup, termasuk silsilah keluarga besarnya. [Jay]

Komentari

komentar