Peristiwa

Memotret Tasikmalaya dengan Angka

Kota Tasik | Usia Kota Tasikmalaya masih terbilang muda. Baru 13 tahun. Namun, daerah yang otonom pada 17 Oktober 2001 ini punya segudang fakta. Banyak angka yang mengemuka, sehingga nama Kota Tasikmalaya sering menjadi buah bibir.

Kota dengan jumlah penduduk 657 ribu jiwa ini mirip seorang remaja putri. Doyan bersolek. Tiap waktu berdandan. Selalu mempercantik diri. Jalan-jalan dihotmix. Pusat-pusat perbelanjaan tumbuh.

Itu diperkuat dengan menjamurnya minimarket. Jumlahnya mencapai 115 minimarket yang tersebar di sepuluh kecamatan. Hotel-hotel pun terus bertambah. Sampai hari ini, ada 30 hotel yang didominasi kelas melati sebanyak 24 hotel. Sisanya, empat hotel bintang 2, dan dua hotel bintang tiga. Malah, sebentar lagi menyusul hotel-hotel baru.

Sejak dua tahun lalu, pemkot memang sedang menggenjot pembangunan infrastruktur. Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengaku, sampai akhir tahun kemarin telah menghotmix 220 km jalan, membangun irigasi dan drainase, serta melistriki 6.400 rumah. Menurutnya, itu dilakukan untuk menurukan angka kemiskinan yang saat ini masih bertengger di angka 17,19 persen, serta membuka lapangan kerja bagi 6,52 persen jumlah pengangguran.

Daerah yang lekat dengan sebutan kota santri ini memang tengah menggeliat. Dalam segala bidang. Hampir di setiap sisi. Berdasarkan laporan dari Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya, jumlah pesantren yang terdaftar sebanyak 230. Kebanyakannya pesantren salafiyah. Kholafiyah hanya 15 persen.

Namun, jumlah tempat hiburan pun terhitung banyak. Ada lebih dari tiga tempat karaoke yang sering disalahgunakan. Label karaoke keluarga hanya kedok. Di dalamnya serba ada. Para pemandu lagu (PL) dengan penampilan seronok mudah ditemui. Mereka bisa diajak lebih. Belum lagi tempat pijat dan spa yang lus-plus.

Tempat karaoke dan pijat plus-plus itu sering dijadikan pangkalan oleh para wanita tunasusila (WTS). Di tempat itu mereka sulit dikenali apakah WTS atau bukan. Beda halnya dengan yang mangkal di trotoar, seperti di bilangan Jl. Mayor Utarya. Mereka terang-terangan menawarkan diri.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, jumlah WTS di kota ini tercatat ada 352 orang, dan 62 orang di antaranya merupakan “alumnus” Dolly, Surabaya. Sedangkan pelanggannya, alias lelaki hidung belang, mencapai 11.722 orang. Itu berarti, satu WTS dipakai oleh 33 lelaki. Tak heran, angka penderita HIV/AIDS terus meningkat.

Ari H. Kusmara, pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, menyebutkan, penderita HIV/AIDS yang teregister sampai Desember 2014 ada 287 kasus.  Pengidapnya didominasi umur 20 sampai 29 tahun yang kebanyakannya pekerja wiraswasta dan ibu rumah tangga. Malah, Kementerian Kesehatan memperkirakan, di kota ini ada 925 pengidap penyakit mematikan itu.

“Penularan HIV/AIDS sudah berubah saluran. Dulu lewat jarum suntik, sekarang melalui jarum tumpul. Penyebabnya sudah bergeser, dari narkoba ke aktivitas seksual beresiko,” ujar Ari, Kamis, 29 Januari 2015.

Menurutnya, perlu ada perhatian dari semua elemen untuk serius mengatasi persoalan tersebut. Apalagi, masih banyak fakta lain yang mencengangkan. Jumlah gay, misalnya. Lelaki penyuka lelaki itu tercatat ada 2.337 orang. Tapi, angka itu masih terbilang “kecil” jika dibandingkan dengan estimasi Kementerian Kesehatan yang memperkirakan ada 7.875 gay di Kota Tasikmalaya.

“Kasus yang ada seperti gunung es. Yang terlihat hanya di permukaan. Wali kota diharapkan bergerak lebih. Masyarakat juga harus mau bergerak, sehingga persoalan akan lebih mudah diatasi. Sudah saatnya kita berpikir idealis jangka panjang,” tandas Ari. initasik.com|ashani/pul

Komentari

komentar