Momon | initasik.com
Etalase

Mempertahankan Kudapan Tradisional, Memberdayakan Simpul Sosial

initasik.cometalase | Pembuatan opak di Cikatuncar, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, memiliki sejarah panjang. Dimulai sejak puluhan tahun lalu. Kini, di tempat tersebut, kudapan tradional asal tatar Sunda berbahan dasar tepung beras itu menjadi industri rumahan. Jadi mata pencaharian sebagian masyarakat.

Omay, 65 tahun, menyebutkan, perintis usaha pembuatan opak di Cikatuncar adalah Hj. Entin (Alm) yang berasal dari Gunung Cupu, Sindang Kasih, Ciamis. “Sebenarnya, orang tua dulu di sini sudah biasa membuat opak, tapi itu hanya untuk konsumsi pribadi,” ujarnya.

Dibuatnya pun, sambung Omay, hanya musim lebaran. Jelang Hari Raya Idul Fitri. Ukuran opaknya besar, dan rasanya asin. Beda dengan yang dibuat warga Cikatuncar sekarang. Selain ukurannya lebih kecil, rasanya juga ada manisnya.

Tatang, pengusaha opak dengan merek Sari Rasa, mengatakan, salah satu motivasi yang mendorong dirinya bergerak di usaha opak adalah ingin mempertahankan keberadaan kudapan tradional, termasuk rangginang, kelontong dan lain-lain.

Selain Tatang, di daerah tersebut sedikitnya ada delapan rumah yang menjalani usaha pembuatan opak. “Makanan opak ini khas Priangan. Saya yakin tidak akan pernah hilang, dan tidak merasa takut untuk bersaing dengan makanan modern,” tandas ayah tiga anak itu.

Di awal merintis, ia mengaku hanya bisa membuat opak sebanyak 3 kg. Usaha itu dijalaninya sendiri. Setelah berkembang, ia mengajak warga sekitar untuk bekerja di tempatnya. Kini, Tatang bisa menjual 70 kg opak.

“Pemasarnya samapi ke Bandung, Ciamis, dan tentunya Tasikmalaya. Lebih ke daerah Priangan Timur,” katanya seraya menyebutkan, harga opak per kg Rp 35.000.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Tatang dibantu 20 karyawan. Bahkan, tidak sedikit dari karyawannya yang membuka usaha serupa. Saling memberdayakan. [Syaepul]

Komentari

komentar