Sosial Politik

Memprotes Sebutan Kota Santri


initasik.com, sosial | Tokoh sepuh Kota Tasikmalaya, Djadja Winatakusuma, memprotes penyebutan kota santri yang dilabelkan ke Kota Tasikmalaya. Menurutnya, itu salah kaprah. Tidak berdasar.

“Kata siapa Kota Tasik itu kota santri? Itu melanggar perda. Coba lihat Perda nomor 2 tahun 2001. Di sana disebutnya Kota Resik. Makanya keliru kalau menyebut kota santri. Wali Kota juga sering ikut-ikutan salah. Seharusnya dia membaca perda. Saya pernah membantah pernyataan salah seorang rektor yang menyebut kota santri,” tutur Djadja.

Kalaupun di kota ini banyak pesantrennya, meski lebih banyak Kabupaten Tasikmalaya, ia mengatakan, tidak serta merta bisa disebut sebagai kota santri. “Mereka yang mesantren di sini, kalau sudah beres akan pulang ke kampungnya  masing-masing. Sebanyak apapun santrinya,” ujarnya.

Sejatinya, penggunaan nama Kota Resik itu menjadi semangat dan memberi arah dalam membangun kota ini. Kota yang kebersihannya terjaga. Kota yang aman dan nyaman untuk ditinggali. Faktanya, sampai saat ini sampah-sampah masih menjadi masalah yang belum ditangani dengan baik. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?