Etalase

Memungut Recehan Topeng Monyet

Kota | “Ini bukan monyet saya. Punya orang. Saya hanya nyewa,” jawab Opik (20), pemain topeng monyet yang biasa menggelar permainan di arena car free day, Jl. Hazet, Kota Tasikmalaya, Minggu, 21 Desember 2014.

Warga Paseh, Kota Tasikmalaya, itu mengaku menyewa Rp 20 ribu untuk satu monyet. Ia bersama tiga rekannya sejak lima bulan lalu mulai menggeluti topeng monyet. Tiap hari Minggu, di ujung selatan jalur car free day, mereka biasa mempertontonkan dua monyet yang punya beragam kabisa.

Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun acap terhibur melihat tingkah lucu monyet-monyet terlatih tersebut. Kendati sebagian kalangan ada yang tidak sepakat monyet dibuat seperti itu, Opik tutup kuping. Baginya, topeng monyet sudah memberi secercah harapan. Ia dan rekan-rekannya bisa memungut recehan dari topeng monyet. Setidaknya, hari itu mereka punya uang untuk makan.

“Tidak tentu, Pak,” ujarnya saat ditanya penghasilan dalam setiap main. Menurutnya, recehan yang terkumpul paling besar Rp 150 ribu. Penonton banyak yang melempar koin Rp 500 sampai Rp 2.000. Tak jarang, uang yang mereka bawa pulang hanya Rp 80 ribu. Jika dipotong Rp 40 ribu untuk sewa dua monyet, berapa uang yang tersisa untuk dibagi?

Opik mengaku entah sampai kapan akan bermain topeng monyet. Ia hanya mengikuti ke mana arus takdir mengalir. Termasuk sampai merantau ke Yogyakarta. Mereka sengaja menginjak tanah para Sultan itu untuk bermain topeng monyet. Sebulan mereka tak pulang-pulang. Begitu pun waktu ke Bandung. Cari kontrakan, lalu keliling main topeng monyet.

“Untuk cari pengalaman juga saja, Pak,” ucapnya sembari menggulung tambang. Jika sedang tidak bermain topeng monyet, Opik kembali ke pekerjaan lamanya jadi kondektur angkutan umum. initasik.com|ashani

 

Komentari

komentar