Syaepul | initasik.com
Inspirasi

Memungut Remah Harapan di Tempat Pembuangan Sampah


initasik.com, inspirasi | Tangan renta Hadi’ah tak henti mencari sesuatu di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciangir, Tamansari, Kota Tasikmalaya. Mencari sesuatu yang dianggapnya bisa diuangkan.

Sejak pagi sampai sore, ia berada di antara tumpukan sampah yang menebarkan bau tak sedap. Sesekali istirahat di gubuk kecil. Selain tempat rehat, gubuk itu digunakan untuk menyimpan sementara hasil pungutannya.

Perempuan berusia 65 tahun itu sudah belasan tahun memungut apa saja yang ada di sana. Yang penting bisa dijual. Walaupun sudah uzur dan dilarang anak-anaknya, ia mengaku belum mau meninggalkan  pekerjaannya. “Malu kalau harus minta terus sama anak-cucu,” dalihnya.

Sejak suaminya meninggal dunia, Hadi’ah selalu sendirian. Di rumah tak ada teman. Anak-anaknya sudah menikah dan pisah rumah. Ada pula yang bekerja ke luar kota.

Kararesel atuh calik di bumi wae mah, Jang. Da ari kekengingan mah teu sabaraha. Kenging sadinten teh dikempelkeun. Engke diical sasasih sakali. Eta teh paling ageung kenging Rp 50.000. Alhamdulillah, teu kedah ukeun ka anak-incu. Isin, ” tuturnya menerangkan, dalam sebulan paling besar dapat Rp 50 ribu.

Di TPSA itu ia tidak sendirian. Banyak warga lainnya yang melakukan kegiatan serupa. Nasihin, warga Ciguner, Kelurahan setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, salah satunya. Ia, sebelumnya bekerja di seorang pengepul sampah. Namun, setelah melihat penghasilan memungut sampah lebih banyak dibanding memilah di tempat pengepul, ia memutuskan untuk terjun sendiri ke TPAS.

Setiap harinya ia bisa mengumpulkan sampah hingga 20 kilogram. Tidak dijual langsung ke pengepul, tapi menunggu sampai menumpuk terlebih dahulu. Biasanya tiga hari sekali barang-barang itu dijualnya. Hasilnya paling Rp 40 ribu.

Di sudut lain, Kiroh dan Ihit terlihat sedang memilah tumpukan amplop. Dilihat satu per satu. Berharap menemukan sesuatu. “Sugan we atuh aya artosan,” ucap Kiroh, 65 tahun, warga Cikadongdong, Kelurahan Tamansari, Kota Tasikmalaya, sembari tersenyum lepas.

Sejak TPSA ada tahun 2002, memungut sampah menjadi kegiatan rutin bersama suaminya. Di usia renta, mereka masih harus menguras peluh demi mempertahankan hidup. Memungut remah-remah harapan di antara tumpukan sampah.

Di lahan seluas 12 hektar itu, mereka mencari botol bekas air mineral dan kaleng-kaleng. “Sanes milarian duit ieu mah. Estuning we ameh aya gawe. Tama keuseul da ari kenging artosna mah kur Rp 15.000,” timpal Ihit.

Hal sama dilakukan Masturoh, 40 tahun. Warga Cipangebak, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu sudah tujuh tahun mencari sampah-sampah untuk menyambung hidup.

“Buat bekal anak sekolah,” tandasnya seraya mengatakan, pekerjaan itu tidak dilakoninya setiap hari. Semaunya. Atau kalau sedang tidak ada yang menyuruhnya bekerja di sawah. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?