Edukasi

Memungut Rupiah dari Sampah Sekolah

Kabupaten Tasik | Bagaimana caranya mengubah sampah sekolah menjadi lembaran rupiah? Tanyakan hal itu kepada murid SMPN 1 Mangunreja atau SMPN 2 Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Di antara mereka pasti ada yang bisa menjawabnya.

Di tangan-tangan kreatif, koran bekas dan yang lainnya bisa dibuat menjadi sesuatu yang menarik dan mendatangkan uang. Anak-anak SMPN 1 Mangunreja sedang bergerak ke arah sana. Mereka tengah mengasah kreativitasnya agar mahir mendaur ulang limbah, sehingga bisa jadi rupiah.

Sejak dua tahun ke belakang, para siswa di SMPN 1 Mangunreja mereka sudah berdamai dengan sampah. Bila melihat sampah, itu langsung diambilnya dan dikumpulkan. “Di sekolah kami ada 800 anak. Kalau mereka jajan yang dikemas dalam plastik, dan misalnya tiap anak jajan dua jenis makanan, maka ada 1.600 plastik bekas. Itu baru satu hari. Bagaimana kalau dalam sebulan?” tutur Ayi Nurhidayat, pengelola rumah sampah SMPN 1 Mangunreja.

Ia menjelaskan, sejak sampah di sekolahnya dikelola dengan manajemen yang baik, kini malah mendatangkan rupiah. Sekolah bersih, uang didapat. Dua minggu sekali, sampah yang sudah menumpuk dijual ke pengepul. Rata-rata nilai transaksinya mencapai Rp 600 ribu.

Menurutnya, mulai tahun pelajaran 2013/2014, sekolah mulai menggelorakan gerakan pungut sampah yang dimotori OSIS dengan membentuk bank sampah. Itu untuk menampung setoran sampah dari siswa.

Setahun kemudian, sekolah menerapkan konsep Rumah Sampah Berbasis Sekolah. “Setelah menerapkan konsep itu, perubahannya drastis. Sampah tidak lagi berceceran. Malah anak-anak pun langsung memungut sampah bila melihat sampah di sekolah. Satu minggu sekali mereka setor ke bank sampah,” tutur Ayi.

ini juga: RSBS; Mimpi dari Pelosok Kelola Rongsok

Sejak ada bank sampah, sambungnya, para siswa tidak lagi acuh pada sampah. Mereka pun jadi peduli kebersihan. Tiap lihat sampah, pungut. Biasanya, hal itu dilakukan penjaga sekolah, tapi sekarang murid sudah punya kesadaran sendiri.

Selain itu, kata Ayi, para siswa diajarkan berkreasi menggunakan bahan-bahan limbah, seperti membuat perahu dari koran bekas dan yang lainnya. Setahun sekali, karya-karya itu dipamerkan di sekolah. initasik.com|shan

Komentari

komentar