Edukasi

Menabur Benih Minat Baca di Kebun Buku Garapan Seniman Lukis Tasik

intasik.com, edukasi | Aneka cara dilakukan untuk meningkatkan minat baca. Beragam taman bacaan dibuat sedemikan rupa agar menarik perhatian. Salah satunya Kebun Buku di Jl. Dadaha No. 18, 5, samping Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya.

Semua itu terkonsep dengan rapih, sehingga menjadi magnet tersendiri. “Sangat bagus. Menarik. Baru lihatada taman baca dengan konsep yang berbeda. Itu yang membuat saya tertarik untuk lihat-lihat buku. Saya lagi olahraga. Tidak ada rencana ke tempat ini. Baru tahu sekarang,” ujar Rizki Syamsul Fauzi, siswa SMAN 4 Kota Tasikmalaya, di sela membaca buku.

Kebun Buku itu memang memiliki konsep berbeda dari taman bacaan yang sudah ada. Penataan buku-buku yang dijajakan di atas limbah pepohonan  hingga lokasi yang memanfaatkan tempat atau ruang publik memberikan suasana nyaman dan asri.

Tak perlu bersusah payah membuat interior dan penataan ruangan yang dapat mengeluarkan biaya mahal. Pasalnya, penataan interior ruangan tidak diperlukan lagi. Banyaknya pepohonan sudah memenuhi untuk membuat cuaca terik kontan berubah sejuk.

“Ini berawal dari bincang-bincang sama Kang Andar, Kang Vudu, dan saya. Terciptalah kebun buku ini. Ketika melihat lingkungan sekitar yang banyak pepohonan, terpikir membuat kebun buku, dan semua interiornya memanfaatkan limbah,” tutur salah seorang penggagas Kebun Buku, Ruslan Aryandinata, seniman lukis asal Tasikmalaya.

Pria yang lebih dikenal dengan nama Leo si Penatap Bulan itu mengatakan, area tersebut biasanya ia gunakan untuk melukis. Sekarang lebih diberdayakan lagi. Agar minat dan kegemaran masyarakat semakin meningkat untuk membaca buku, katanya, perlu juga menciptakan fasilitas yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan buku.

“Masyarakat harus didekatkan dengan buku-buku. Disediakan buku di tempat-tempat publik, semisal di Dadaha ini, taman kota, dan sebagainya. Secara tidak langsung mendorong minat baca masyarakat. Yang saya tahu, taman bacaan di ruang-ruang publik itu belum muncul. Masih kurang,” paparnya.

Sekarang ini, walaupun fasilitas untuk mengakses bacaan sangat mudah, bisa melalui jejaring internet, namun tetap ada kesan dan nilai makna yang berbeda ketika membaca langsung lewat buku. Ada proses yang dilalui. Lebih mengakar.

“Di buku itu ada proses. Memerlukan perjuangan dan pengorbanan, mulai dari menulis dan mencetaknya. Ada kesan yang berbeda ketika kita membaca di gadget dan di buku. Ada nilai lebih yang terkandung,” terang warga Padasuka, Kelurahan Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, itu.

Untuk pengadaan bukunya, selain donasi juga ada dari komunitas Rumpaka Percisa, melalui gerakan spiral. Saat ini, buku yang ada baru 30 eksemplar. Itu akan diputar dan diganti dengan komunitas yang sama mendapatkan buku. Saling tukar-menukar. Terus berputar dan saling bergantian. “Awalnya tidak punya buku sama sekali. Hanya mengandalkan kemauan saja, sekarang buktinya bisa berjalan dan bukunya juga terus menambah,” pungkasnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?