Foto: Iip D Yahya | Dok. Pribadi
Sorot

Menapaki Jejak Hebat Warga Tasikmalaya Sebelum Republik Indonesia Merdeka

initasik.com, sorot | Jauh sebelum Republik Indonesia ini merdeka, Tasikmalaya menjadi daerah di Jawa Barat yang paling dinamis. Pergerakan intelektualnya tidak terbendung. Atmosfer pesantrennya kental. Semangat juangnya tinggi. Roda perekonomiannya pun bergerak maju. Dalam banyak hal, Tasikmalaya lebih unggul dibanding daerah lain.

Peneliti sekaligus penulis sejarah Sunda, Iip D. Yahya, menyebutkan, pada era 1920-an, di Tasikmalaya sudah terbit karya-karya intelektual yang berpengaruh. Pada 1923, misalnya, ada koran Sipatahoenan yang dibuat Soetisna Sendjaja. Koran itu semula terbit mingguan, kemudian tumbuh menjadi surat kabar harian.

Tiga tahun berselang, 1926, terbitlah Al-Imtisal yang digagas Perkoempoelan Goeroe Ngadji. Terbit dua bulan sekali. Tokoh sentral di baliknya adalah KH. M. Soedjai. Ia merupakan pendiri pesantren pertama di Tasikmalaya, yaitu Pesantren Kudang, sehingga namanya lebih dikenal dengan sebutan Mama Kudang.

Ada juga Al-Mawa’idz dan Al-Moechtar. Keduanya terbit pada 1933. Al-Mawa’idz diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama Cabang Tasikmalaya yang waktu itu ketua Tanfidziyahnya Soetisna Sendjaja. Sedangkan Al-Moechtar diprakarsai Kiai asal Sukalaya, H.M. Pachroerodji, berkantor di Gunung Sabeulah.

Al-Mawa’idz itu peredarannya sekitar 2.000 eksemplar. Terbit rutin selama empat tahun,” sebut Iip, Rabu, 26 April 2016.

Nama lain yang tidak bisa dipisahkan terkait orang-orang hebat asal Tasikmalaya adalah Haji Une atau R.H. Oene Djoenaidi. Bahkan, jejak warga Manonjaya ini spektrumnya lebih luas. Ia membesarkan koran Pemandangan.

Di era pergerakan Indonesia, koran itu disebut-sebut sebagai yang terbesar. Hampir semua tokoh nasional, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Oto Iskandar di Nata dan lain-lain, pernah menulis di koran tersebut.

Dalam tulisannya, “Haji Une Manonjaya, Maesenas Pergerakan Islam”, Iip menyebutkan, koran Sipatahoenan dicetak di percetakan Galunggung, di Bandung, milik Haji Une. “Untuk mengembangkan Pemandangan, Haji Une memindahkan percetakannya ke Jakarta dan berganti nama menjadi percetakan Pemandangan. Bersamaan dengan itu weekblad (mingguan) Pemandangan berubah menjadi dagblad (harian). Harian ini memiliki semboyan, ‘Berpedoman Islam – Memperjuangkan Keadilan Sosial – Tidak Berpartai’,” tulis Iip.

Di bidang lain, ada nama Ir. H. Djuanda Kartawidjaja. Di masa mudanya, urang Tasikmalaya kelahiran 14 Januari 1911, itu aktif di Paguyuban Pasundan dan Muhammadiyah. Salah satu sumbangsih terbesarnya bagi republik ini adalah Deklarasi Djuanda, 1957, yang menyatakan bahwa laut Indonesia bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia pun ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Sosok besar lainnya adalah K.H. Zainal Musthafa. Pendiri Pondok Pesantren Sukamanah itu membangkitkan semangat jihad para santrinya untuk melawan penjajah. Ceramah-ceramahnya selalu menentang kebijakan Belanda.

Bersama pendiri Ponpes Cipasung, KH. Ruhiyat dan tokoh lainnya, K.H. Zainal Musthafa gigih melewan penindasan penjajah. Sampai akhirnya mereka ditangkap Belanda. Namun, itu tidak menyurutkan semangatnya, sampai napas terakhirnya. Atas perjuangannya itu, K.H. Zainal Musthafa ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Iip menegaskan, sejak dulu, Tasikmalaya tumbuh sebagai daerah penghubung. Ketika wilayah barat ini diduduki oleh Mataram selama dua abad, Sukapura menjadi penghubung antara Mataram dan Batavia.

“Jadi daerah satelit, sehingga di segala sisinya, mulai pendidikan sampai ekonomi tumbuh sangat pesat. Utusan penyebaran Islam di Jawa Barat, Syekh Abdul Muhyi, tinggalnya di daerah Tasik. Tidak heran, pendidikan Islam di daerah ini tumbuh pesat,” ungkap penulis buku “Ajengan Cipasung: Biografi KH Ilyas Ruhiyat” itu.

Ia menilai, sampai sekarang Tasikmalaya masih lebih unggul dibanding daerah lain. “Tasik itu kuat dalam berbagai aspek. Di dunia usaha, siapa yang bisa menyaingi Budiman atau Mayasari? Pengusaha-pengusaha WC itu orang Tasik. Mereka ada di mana-mana. Penguasa WC terbesar di Indonesia. Di Lampung, hampir semuanya dikuasai orang Tasik,” sebutnya. [Jay]

Komentari

komentar