Humaniora

Mencari Nafkah dari Barang Sampah, Arif Berharap Anaknya Bisa Kuliah

initasik.com, humaniora | Baju kumal, karung, dan pengail yang terbuat dari bekas roll cat tembok menjadi teman akrab Arif sehari-hari dalam mencari nafkah. Ia mengais barang-barang yang sudah dianggap sampah.

Warga Ciseda, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, itu setiap hari mencari botol bekas air mineral, besi, alumunium dan rongsok lain yang bisa dijual. Saat bertemu dengan initasik.com, ia sedang menyusuri kompleks perkantoran Kabupaten Tasikmalaya.

Usianya baru 35 tahun. Namun, beban hidup telah membuatnya tampak lebih tua. Ia memiliki seorang anak yang kini usianya baru menginjak 3 tahun. Namanya Rima. Setiap hari ia mulai bekerja dari pukul tujuh pagi sampai pukul tiga sore. Mengait dan memanggul sampah, dimasukannya ke dalam karung.

Satu kilogram sampai puluhan kilogram barang bekas dikumpulkannya. Setelah banyak, baru dijual ke pengepul. Tiga sampai empat hari baru dijual. Sebagian uangnya ditabung. Dimasukkan ke dalam celengan. Ia punya harapan, anaknya harus kuliah. “Saya ingin buat anak bangga dengan tangan kotor saya, bau badan saya, dan juga pekerjaan hina saya ini,” ujarnya.

Menurutnya, ia telah menyisihkan penghasilannya itu selama dua tahun. Kelak dibuka saat dibutuhkan anaknya untuk sekolah. Ia mengaku, penghasilannya tidak menentu. Cukup untuk makan sehari-hari.”Seminggu kadang punya uang Rp 100 ribu,” akunya. [Eri]

Komentari

komentar