Syaepul | initasik.com
Sorot

Mendengarkan Cerita Kaum Gay dan Lesbian Tasikmalaya


initasik.com, sorot | Secara fisik, Gayus (nama samaran) sama dengan lelaki pada umumnya. Sepintas sulit dibedakan. Siapa nyana, ternyata ia gay. Malah perannya sebagai perempuan. Istilahnya bottom. Saat bersenggama, dia yang dipenetrasi pasangannya yang menjadi top.

Begitupun Duri (bukan nama sebenarnya). Meski berambut pendek, ia tetap terlihat cantik. Tapi siapa sangka, dia lesbian. Berperan sebagai laki-laki. Istilahnya buci. Kini ia sedang menjalin hubungan dengan seorang janda beranak satu.

Saat berbincang dengan initasik.com, di taman kota, Kota Tasikmalaya, Gayus, menceritakan tentang dirinya kenapa menjadi gay. Ia mengaku, sejak kecil sudah punya hasrat kepada laki-laki, tapi itu masih dipendam. Sempat satu kali memiliki hubungan dengan perempuan. Tapi tidak bertahan lama. Di sekolah ia berbaur dengan teman-temannya seperti biasa.

Setelah lulus SMA, Gayus mulai berani pacaran. Sampai sekarang sudah beberapa kali punya kekasih. Tentu saja laki-laki. Pacar terbarunya adalah anak SMA. Mereka baru saja putus.

“Orangtua tidak tahu kalau saya gay. Malah saya sering disuruh untuk menikah. Saya hanya mengiyakan. Mudah-mudah tahun depan atau kapanpun saya bisa menikah dengan perempuan,” tutur pria berusia 26 tahun yang kini bekerja di salah satu perusahaan swasta itu.

Menurutnya, mereka yang gay berasal dari berbagai kalangan. Malahan, ada sebagian yang sudah memiliki pacar perempuan dan berkeluarga. Meski sudah punya istri, tetap saja suka berhubungan badan dengan laki-laki lain.

“Bagi kami, tidak sulit untuk mengenali mereka yang gay. Kalau saling respons, itu tanda kami ada kesukaan yang sama. Apalagi sekarang lebih mudah lagi. Ada aplikasinya. Di medsos juga sudah mulai bermunculan. Ada grupnya,” terang Gayus.

Ia mengatakan, setiap tahun jumlah gay terus bertambah. Mereka dari berbagai kalangan bawah hingga atas. Ada yang bekerja di perusahaan, PNS, polisi, dokter, perawat, dan yang masih mengenyam pendidikan. Itu diketahui ketika berkumpul langsung atau dari aplikasi dan medsos yang menjadi tempat saling tukar informasi.

Berbeda dengan dahulu. Saat ini anak-anak SMP atau SMA sudah berani terangan-terangan. Malahan lebih parah, tidak sedikit dari mereka yang mengunggah foto atau video ke medsos. Gayus mengaku miris dengan cara-cara seperti itu.

Menurut dia,  mereka menjadi gay kebanyakan disebabkan kekerasan dalam keluarga. Pola asuh yang tidak baik. Kurang perhatian orangtua. Terlebih, ketika mengetahui anaknya seperti itu orangtua langsung marah. Menyiksa anaknya.

“Kebanyakan rata-rata di lingkungan kita itu masalah orangtua yang keras ketika mendidik. Bikin hati kita sedih. Ketika tahu anaknya seperti itu, cara mendidiknya kurang baik. Pakai kekerasan. Ketika tahu anaknya berbeda, baiknya jangan malah dimarahi, apalagi dengan kekerasan. Harusnya tetap dikasihsayangi dan diberikan pengertian dengan ramah,” paparnya.

Lain lagi cerita Duri. Di rumah, ia layaknya anak baik. Pakai kerudung. Tapi, saat di luar rumah, jadilah ia buci. Pasangannya fame. Buci adalah perempuan yang jadi laki-laki bagi pasangannya. Mereka lesbian.

Kini, Duri memilih indekos. Sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan swasta. Malahan ia sempat membuka usaha bareng dengan pacarnya. Tinggal satu kamar. Itu dijalani selama tiga tahun. Layaknya suami-istri, Duri bekerja untuk mencari nafkah. Sedangkan istrinya tinggal di kontrakan.

Ia beranggapan, mereka yang lesbi karena tidak mendapatkan perhatian dari orangtua. Ada juga yang trauma berumah tangga. Tidak sedikit dari mereka yang masih bersuami atau memiliki pacar laki-laki, tapi lesbian.

“Kalau pasangan saya dekat dengan lelaki, saya pasti cemburu. Suka marah-marah. Kemarin, waktu ‘istri’ saya selingkuh, saya pukulin dia,” ujarnya seraya menyebutkan, yang menjadi pemandu lagu di tempat karaokean itu kebanyakan lesbian. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?