Peristiwa

Mendengarkan Curhat Petugas Alih Daya PLN

Kota Tasik | Banyak yang mengecam Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat listrik mati. Caci-maki dan sumpah serapah yang bergumul di dalam hati membuncah lewat rangkaian kata di media sosial. Konsumen kesal, karena aliran listrik padam dalam waktu lama. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali byar pet.

PLN pun disindir jadi perusahaan lilin negara. Namun, tak banyak yang tahu siapa yang harus berjibaku saat listrik padam, lantaran jaringan terkena pohon runtuh, misalnya. Mereka adalah petugas alih daya alias outsourcing. Tugas mereka berat. Taruhannya nyawa.

“Ada teman yang meninggal dunia, karena tertimpa tiang listrik saat akan memasang jaringan,” sebut salah seorang pegawai alih daya yang minta namanya tidak ditulis. Dalam satu kesempatan, kepada initasik.com dia ujug-ujug mencurahkan isi hatinya (curhat) ketika istirahat dalam tugasnya. Padahal kenal pun tidak. Baru bertatap muka saat itu.

Sebagai petugas teknik, ia dan rekan-rekannya menjadi ujung tombak PLN. Baik-buruk wajah perusahaan setrum itu ada di tangan mereka. Puas-tidak puas pelanggan PLN ada di pundak mereka. “Kalau mau, saya bisa memadamkan listrik di satu daerah dengan mudah. Mau di titik mana?” ujarnya dengan nada menantang.

Kendati mudah baginya untuk melakukan sabotase, itu tidak pernah dilakukannya. Ungkapan tersebut sebatas mengeluarkan kekesalan yang ia rasakan selama lima tahun lebih menjadi pegawai alih daya PLN. Tanggung jawab besar, tapi kompensasi kecil. Gajinya dipatok upah minimum kota. “Kalau (gajinya) dibanding pegawai PLN mah jauh, Mas. Antara langit dan bumi,” imbunya.

Menurutnya, kebanyakan pegawai PLN yang bergaji besar itu kerjanya di dalam ruangan berAC. Sedangkan ia dan teman-temannya bertugas di lapangan. Tak peduli hujan atau panas, bila ada gangguan segera meluncur. Mending kalau titik gangguan berada di daerah kota. Persoalan bakal tambah runyam bila jaringan yang terganggu ada di pinggiran, dan harus melewati medan yang sulit.

Ia menceritakan pengalamannya saat menyisir gangguan di daerah Tasik timur. Di saat warga tengah tidur nyenyak, sekitar pukul dua dini hari ia dan tim teknik lainnya harus mencari jaringan yang terganggu. Meski di bawah deras hujan dan harus melalui medan terjal, akhirnya tugas bisa diselesaikan. Plong. Kewajiban telah ditunaikan. Namun sering ia alami hal lain saat bertugas. Alih-alih dapat sekadar ucapan terim kasih, yang didapatnya malah bentakan warga.

“Hampir semua penghuni kebun binatang sudah saya dengar. Bahkan diancam pakai golok pun sering. Di rumah dimarahi istri, eh di lapangan dibentak-bentak warga. Kalau dimasukin hati mah sakit, Mas. Jalani saja. Saya kan sedang mengembangkan bakat. Bakat ku butuh,” tuturnya berseloroh. initasik.com|shan

Komentari

komentar