Para pengemis di TPU Cieunteung selalu memenuhi area pemakaman saat Hari Raya Idul Fitri | Syaepul/initasik.com
Sosial Politik

Mengais Rupiah dari Peziarah Kubur di Pemakaman Umum


initasik.com, sosial | Setahun sekali, tepatnya Hari Raya Idul Fitri, tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Tasikmalaya kerap dipenuhi para peziarah kubur. Bagi sebagian orang, itu jadi kesempatan emas untuk mencari uang. Puluhan juta rupiah mengalir ke banyak saku.

Di TPU Cieunteung, misalnya. Tidak sedikit warga sekitar yang mendadak menjadi penjual bunga, pembersih makam, tukang parkir, atau pendagang makanan dan minuman. Tak terkecuali para pengemis dan pemilik alat transportasi tradisional seperti delman dan becak.

Begitupun di kawasan TPU Cinehel. Malahan, di lokasi ini para pendagang sampai merangsek dan masuk ke dalam tempat pemakaman. Di sepanjang jalan berdiri tenda-tenda dadakan. Rumah-rumah pribadi yang berada di pinggiran jalan disulapjadi tempat parkir kendaraan.

Halaman Kantor Kecamatan Cihideung, yang lokasinya terbilang dekat ke TPU Cieunteung, juga dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat. “Hampir semua yang punya rumah di sekitaran ini jadi tempat parkir dadakan. Turun-temurun seperti ini, sejak ada pemakaman di sini. Alhamdulillah, paling sedikit dapat Rp 600 ribuan perhari,” sebut Dudung Sudrajat, 52 tahun, warga Cieunteung.

Bukan hanya warga sekitar makam yang dapat berkah. Openg, warga Negla, Kelurahan Setiajaya, Kecamatan Cibeureum, mendapat uang banyak dari usaha delmannya. Ia mengatakan, di Hari Raya Idul Fitri, hampir semua kusir delman yang biasa mangkal di pasar lama beralih tempat ke TPU.

Ia mengaku, pendapatan di hari tersebut sangat berbeda dengan hari-hari biasa. “Kalau di pasar paling besar dapat uang Rp 50 ribuan. Sepi. Tapi di sini alhamdulillah, bisa bawa pulang Rp 200 ribuan,” ujarnya di sela menunggu penumpang di TPU Cieunteung.

Sulaeman, petugas pemungut retribusi makam TPU Cieunteung, mengatakan, di tanah seluas 2,75 hektar itu terdapat sebanyak 7.907 makam. Biasanya, keramaian di pemakaman itu bertahan sampai tiga hari. Di TPU Cinehel lebih lama lagi. Bisa sampai seminggu.

Menurutnya, di hari biasa, penjual bunga yang biasa dagang paling hanya dua orang. Sekarang sampai puluhan. Begitupun dengan pedagang makanan dan minuman. Tukang parkir dan pengemis juga sama. Tambah banyak.

Taryono, petugas pemungut retribusi makam TPU Muslim Cinehel, mengatakan, di tempat seluas 10 hektar itu ada sekitar 11.164 makam, tidak termasuk 2017. Ia membenarkan, setiap satu tahun sekali, banyak yang mengais rezeki di TPU.

Mendadak banyak pedagang, penjual bunga tabur, pembersih makam dan lain-lain. “Yang rutin jualan bunga ada satu orang. Penyapu harian itu ada sekitar 30 orangan, kalau pas Hari Raya bisa mencapai 150 orang,” sebutnya.

Sementara itu, Iteng, salah seorang penjaga parkir di TPU Cinehel, menuturkan, “Kalau di sini dikoordinir Karang Taruna. Yang menjaga sekitar 25 orangan. Sehari bisa dapat Rp 3 jutaan. Uangnya dibagi-bagi untuk masjid, kegiatan pemuda, dan masih banyak lagi acara.”

Adapun bagi para pedagang di kawasan TPU, sebagian ada yang membayar, ada juga yang gratis. Mereka membayar kepada warga sekitar yang memiliki lahan. Budi, 39 tahun, pedagang minuman, mengaku kalau dirinya cuma diminta bayar kebersihan. Selain itu tidak ada.

“Sehari bisa dapat uang Rp 400 ribu. Ini sebenarnya usaha musiman. Kalau Hari Raya saja. Hari-hari biasa mah suka dagang sosis,” ujar warga Kubangsari, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, itu. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?