Edukasi

Mengajar Pakai Media Audio Visual Lebih Efektif


initasik.com, edukasi | Supaya anak tidak merasa jenuh ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar, seorang pendidik harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Terlebih bagi guru bidang yang tugasnya lebih banyak menerangkan, seperti guru bidang Pendidikan Agama Isalam (PAI) dan Budi Pekerti, sejarah dan sebagainya.

“Anak tidak melulu diberi informasi dari guru. Kita harus menciptakan pembelajaran yang dapat mendorong anak untuk aktif, sehingga anak tidak jenuh. Terlebih kan saya guru PAI yang sering dianggap pelajaran menjenuhkan. Hanya membaca dan menulis. Karenanya kita dituntut menciptakan model pembelajaran yang menyenangkan,” tutur Ranita Dewi, S.Pd.I, guru Bidang PAI dan Budi Pekerti di SDN Sukasenang, Kecamatan Singaparna.

Menurutnya, banyak sekali model pembelajaran yang bisa diterapkan kepada siswa ketika kegiatan belajar mengajar. Misalnya market place activity, match mine, role playing, dan masih banyak lagi. Model-model pembelajaran seperti itu dirasakan mampu memancing semangat dan membangkitkan gairah anak untuk belajar.

Model pembelajaran market place activity yaitu suatu model di mana anak-anak layaknya sedang berjual beli di pasar. Anak dibagi ke dalam beberapa kelompok, misalnya menjadi tiga kelompok A, B, C. Kelompok A menjual materi tentang sifat-sifat Allah, kemudian kelompok B pengertiannya apa, dan kelompok C manfaatnya mengenal nama-nama Allah itu apa. Kemudian anak-anak diarahkan untuk saling tukar-menukar informasi, ada yang membeli sifat Allah itu berapa. Hasilnya ditulis anak.

“Anak digiring untuk aktif mencari informasi sendiri. Materinya tetap sama, namun model pembelajaran terus berubah-rubah agar anak tidak jenuh atau bosan. Jadi, pas bertemu tinggal mempraktikkan. Itu hanya salah satu model pembelajaran yang saya terapkan. Masih banyak model lagi. Soalnya kalau terlalu sering itu, anak akan merasa jenuh juga,” ungkapnya.

Sedangkan model pembelajaran match mine yaitu satu model yang mencari pasangan. Anak-anak disuruh bergerak mencari pasangan. Mereka diberikan ruang untuk mencari informasi. “Bisa disuruh untuk role playing atau bermain peran. Disuruh untuk memerankan yang ada dalam materi, misalnya ketika Abu Bakar menyuruh berzakatnya itu bagaimana. Ternyata, walaupun kita tidak menulis, membuat catatan yang banyak, dengan penggunakan model ini anak-anak tergambar. Anak bisa menangkap. Lebih efektif dengan seperti ini,” paparnya.

Selain itu, guru juga dituntuk untuk kreatif, mampu menciptakan dan memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Hal itu terbilang efektif untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan siswa. Apalagi saat ini untuk mencari informasi yang berkaitan dengan media pembelajaran sangat mudah.

“Pengalaman saya, ketika menggunakan model ceramah anak terlihat jenuh. Tapi ketika menggunakan model-model anak ada kenaikan skor. Anak lebih cepat mengingat lewat audio visual dibanding menghafal kata-kata. Ceramah itu tetap ada, namun tidak mendominasi,” pungkasnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?