Mengakhiri Ramadan dengan Manis
Refleksi

Mengakhiri Ramadan dengan Manis

Prolog Ramadan sebulan ke belakang pastinya dilalui dengan tempratur spiritualitas tinggi, dan kita masih ingat betul akan hal itu. Betapa mudahnya kita menyambut titah dan panggilan Allah untuk menggiatkan diri dalam meramaikan aktivitas Ramadan, individual maupun massal. Betapa mudahnya kita melangkahkan kaki ke mesjid dan tempat-tempat terpuja lainnya dan betapa ringannya kita menggerakkan mata, tangan, telinga, lidah dan segenap panca indera kita menyambut seruan dan anjuran agama.

Di tengah jalan, kita sering terantuk dan terjerembab ke dalam kubangan malas. Langkah pun tertaih-tatih dan sehelai demi sehelai lembaran kebaikan tercabut dari buku kebaikan kita. Tanggung jawab untuk mengisi pertengahan Ramadan untuk melanjutkan ritual beralih ke acara seremonial. Sebagai manusia yang hidup dalam dunia pergaulan, kita terkena penyakit latah, entah dalam hal kebakan ataupun dalam keuburukan.

Penyakit latah yang menyerang kita sejak datangnya paruh kedua Ramadan atau mungkin dimulai semenjak paruh pertama Ramadan kita jejaki adalah kegiatan mempersiapkan baju baru ataupun kue lebaran. Selebihnya, bagi kita yang kebetulan berprofesi sebagai pedagang, Ramadan beralih dari kesempatan meraih keuntungan rohani menuju ritual meraup keuntungan materi. Tak salah memang, dan tak ada yang berhak mempersalahkan bila hal itu terjadi pada diri kita ataupun orang lain, apalagi bila dihubungkan dengan salah satu gelar Ramadan sebagai bulan penuh berkah dan bulan banjir rezeki. Tapi, yang harus dipertanyakan adalah apabila keasyikan memburu karunia Ilahi berbentuk rezeki itu dilakukan dengan mengesampingkan ataupun melupakan tugas utama kita di bulan Ramadan, yaitu mengakrabkan aspek rohani kita dengan simpul-simpul agama seperti mesjid, Al-Quran, anak-anak yatim, fakir miskin dan kaum mustadhafin lainnya.

Akhiri Dengan Manis

Bila prolog Ramadan tahun ini sukses menghantarkan kita menjadi muslim yang lebih dari biasanya, maka epilog Ramadan mestinya menjadi puncak prestasi ibadah kita di hadapan Allah. Tradisi di zaman nabi, para sahabat dan para ulama yang shalih di zaman dahulu terbentuk sedemikian indah. Susunan kebiasaan yang tercipta di penghujung bulan ini meniscayakan hadirnya puncak ibadah yang tak ada duanya dalam penyelaman mereka akan makna hidup dan kehidupan. Sulit untuk menggambarkan betapa mencekamnya suasana spiritualitas mereka pada saat-saat itu. Ibadah vertikal dan horizontal yang terpraktekkan menggambarkan sebuah kehidupan bagaikan kehidupan di atas awan. Kemewahan ornamen dunia tak ada artinya bagi mereka pada saat-saat itu karena mereka tersibukkan dengan perasaan takut yang teramat daam akan perpisahan dengan tamu agung Ramadan.

Kita tak bisa dan takkan mampu untuk berandai-andai, bahwa saat ini kita hidup dan hadir dalam kehidupan mereka. Yang bisa dilakukan adalah, bagaimana detik-detik terakhir Ramadan bisa kita hadiri dengan hati yang bersih, jiwa yang ringan dan spiritualitas yang fresh dalam mempersiapkan diri menyambut hari-hari panjang yang belum bisa kita prediksi cerah dan kusamnya. Udara Ramadan yang tersisa harus kita hirup dalam suasana hati yang penuh gembira karena Islam masih teguh kita genggam dan Allah SWT akan senantiasa ada dalam jiwa.

Sisa-sisa udara Ramadan yang masih kita hirup ini begitu mahal harganya dan tak ada seorang pun yang mampu untuk membelinya walaupun harus menjual bumi ini lengkap dengan segala isinya. Sayangnya, tak semua kita mengerti dan memahami hal itu karena konsentrasi dan pusat fikiran sudah tertuju untuk menyukseskan penyambutan hari lebaran dengan aneka persiapan yang terkadang terkesan terlalu dipaksakan. Bagaimana tidak, demi suksesnya penyambutan lebaran, kita, atau sebagian dari kita berani untuk menggadaikan harga diri dengan meminjam uang atau barang sana sini.

Takalluf atau memaksakan diri dalam urusan duniawi adalah hal yang dicela dalam agama kita, terlebih bila hal itu dilakukan pada momen-momen yang semestinya sarat dengan nuansa religi tingkat tinggi.

Apa yang kita lakukan dan kita persiapkan dalam menyambut lebaran sudah lama menjadi tradisi hingga membudaya. Tak mudah menggagas dan merevivalisasi akhir Ramadan menjadi sebagaimana adanya di masa nabi, periode sahabat, ataupun zaman para ulama terdahulu. Apa yang terjadi hari ini benar-benar berbeda. Akhir Ramadan pada gilirannya terasa hambar dan tak berwarna lagi. Lapar puasa pun tak lagi memberi energi yang mendorong kita melakukan penghambaan diri kepada Allah seperti yang terasa di awal-awal hari bulan Ramadan. Bisa dibayangkan, bila saat-saat terakhir Ramadan ini digambarkan sebagai manusia, ia begitu lesu dan bisu. Tenaganya lunglai dan pesonanya memudar.

Sesaat lagi Ramadan pamit. Kita belum terlambat, sekali lagi belum terlambat untuk membahagiakan Ramadan, membahagiakan Ilahi sekaligus membahagakan diri sendiri dengan melepas kepergian Ramadan dengan cara bermesraan dengannya. Memesrakan diri dengan Ramadan di akhir perjalanannya tentu dengan cara yang syari atau sesuai dengan petunjuk agama. Hal yang paling penting adalah dengan cara memuasakan seluruh aspek kemanusiaan kita walaupun kita tak ada di mesjid ataupun rumah-rumah ibadah lainnya. Di manapun kita, hubungan baik kita dengan Allah harus digenggam erat seerat kebutuhan kita akan rahmat dan ampunan Allah. Di manapun kita berada, lafalkan terus doa yang diajarkan nabi SAW di sepanjang waktu terakhir Ramadan. Doa itu berbunyi Allhumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa fafu annii, ya Allah, sesungguhnya Engkau dzat yang maha pengampun, dzat yang senang mengampuni dosa, maka ampuni segala dosa-dosaku.

Husnul khatimah atau manis di ujung adalah hal yang sangat dicintai Allah. Mengakhiri Ramadan ini dengan manis tentu menjadi idaman setiap muslim dan sangat disenangi Allah. Maka, cerita Ramadan kita di tahun ini akan sangat membahagiakan Allah bila diakhiri dengan manis. Wallhu min war al-qashd

* Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung, dosen LB STAI Tasikmalaya dan UNIGAL Ciamis.

Komentari

komentar