Peristiwa

Mengap-mengap SMA Swasta

Kota Tasik | Lantaran terlambat datang, dua orang siswa dihukum oleh petugas piket. Jam sekolah sudah dimulai, mereka malah baru tiba. Terpaksa, push up di depan pintu gerbang. Namun, sanksi seperti itu sudah tidak ada. Bukan karena kebijakannya diganti, tapi sekolah tersebut sudah tutup buku.

Menjamurnya sekolah menengah kejuruan (SMK) menjadi salah satu penyebab menurunnya pamor beberapa SMA swasta di Kota Tasikmalaya. Nama-nama SMA swasta yang dulu berjaya, kini merana. Hidup segan, mati enggan.

Jalannya pun terseok-seok. Mengap-mengap. Sulit bernapas. Berbagai upaya dilakukan agar bisa bertahan hidup di tengah derasnya persaingan antarinstitusi pendidikan. Sebagian masih bertahan, namun ada juga yang mengibarkan bendera putih. Menyerah pada keadaan. Tak bisa meneruskan perjalanan.

Salah satunya SMA Siliwangi. Sekolah yang berada di Jl. Saptamarga, Tawang, Kota Tasikmalaya, itu sudah menutup buku, lantaran jumlah siswa baru jauh dari harapan. Siswa-siswa yang masih ada lantas dialihkan ke sekolah-sekolah swasta lain. Yang kini tersisa adalah bangunan yang cukup luas di tengah lingkungan yang asri.

Kondisi serupa dialami SMA Pasundan 1 di Jl. Dewi Sartika, Kota Tasikmalaya. Namun, sekolah yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan itu masih menjalankan kegiatan belajar-mengajar (KBM), meski jumlah siswa menurun drastis dibanding empat tahun lalu.

Kepala SMA Pasundan 1, E. Hasanuddin, menyebutkan, dari 16 kelas yang ada, hanya lima kelas yang digunakan KBM. Itupun jumlah siswa tiap kelas kurang dari 20 orang. “Sekarang jumlah keseluruhan murid hanya 87 orang,” ungkapnya saat ditanya initasik.com di ruang kerjanya, Kamis, 12 November 2015.

Begitupun nasib SMA Pancasila. Dari 15 ruang kelas yang ada, hanya tiga kelas yang dipakai KBM. Rinciannya; kelas 10 ada 14 siswa, kelas 11 ada 20 siswa, dan kelas 12 cuma 17 murid. “Penurunan terjadi sejak banyak berdiri SMK swasta, sekitar empat tahun ke belakang. Dulu SMK masih terbatas. Sekarang, jumlah penduduk tetap, sekolah bertambah, sehingga penurunan murid baru sangat drastis,” ujar kepala SMA Pancasila, Mamat Rahmat.

Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengatakan, tidak semua SMA swasta mengalami penurunan murid. Malah sebaliknya. Ada sekolah yang banyak peminatnya. “Tidak usah saya sebut nama sekolahnya, tapi sekolah-sekolah itu termasuk favorit. Intinya kualitas yang harus dikedepankan,” tandasnya.

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, saat ini jumlah SMA swasta hanya 16 sekolah, termasuk SMA Siliwangi yang belum tutup definitif. Sedangkan SMK swasta berjumlah 39 sekolah.

Langgar kesepakatan
Soal kualitas, E. Hasanuddin mengaku sudah berupaya maksimal untuk membuat sekolahnya kembali diminati. Banyak cara telah ditempuhnya dengan membuat program-program yang bisa memberi warna positif bagi siswa. Selain ada tahfidz dan belajar pidato, juga memberikan pelajaran service handphone. Seminggu sekali, semua murid kelas 11 wajib ikut pelajaran itu.

Namun, katanya, upaya-upaya itu belum memperlihatkan hasil seperti yang diinginkan. Selain kuatnya negeri minded, juga peran serta pemerintah tidak terlihat ngotot. Ia menyebutkan soal pembatasan kuota siswa per kelas yang tidak boleh sampai 40 orang dan jumlah rombongan belajar.

“Jumlah rombel diharapkan sesuai dengan kriteria minumun. Sembilan kelas itu paling banyak. Jangan lebih dari sembilan kelas. Tiap tahun ada kesepakatan antarsekolah negeri dan swasta terkait kuota siswa dan rombel, tapi dalam pelaksanaannya selalu bias,” sesal Hasan.

Pernyataan serupa disampaikan Mamat Rahmat. Ia menyebutkan, pada tahun ajaran baru kemarin sudah ada sekitar 40 orang yang mendaftar ke SMA Pancasila. Tapi di saat masa MOPD, ada sekolah negeri yang menerima lagi siswa baru. “Akhirnya mereka yang sudah daftar ke sini memilih sekolah negeri. Sekarang kelas 10 hanya 14 orang,” imbuhnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar