Etalase

Mengenang Kejayaan Industri Rumahan Sarung Bantal

Kota Tasik | Siapa nyana karung terigu bisa menghajikan seseorang? Siapa sangka pula karung-karung yang asalnya akan dibakar karena sudah dikategorikan limbah itu bisa menguliahkan tiga orang anak? Itulah yang dialami H. Wowom dan Hj. Mimih (61).

Bahkan, berkat kelihaiannya mengubah limbah menjadi rupiah, suami istri dari Mancagar, Kec. Cipedes, Kota Tasikmalaya, itu pada 1995 dipanggil ke Jakarta untuk menghadap presiden Soeharto (Alm).

Hj. Mimih menceritakan, sekitar 1992/1993 ia mendapat rezeki tak terkira. Waktu itu, ia mendapat kiriman 7 puso atau sekitar 300 ribu lembar karung terigu dari salah satu pabrik terigu berskala besar. Asalnya oleh pabrik karung-karung itu akan dimusnahkan dengan cara dibakar. Tapi niat itu urung dilakukan. “Karung-karung eta dipeser ku Ibu,” kisahnya.

Karung-karung berbahan kain itu, sambung Mimih, disulap menjadi sarung bantal, seprai, atau celana. Hasil jadinya tak hanya dipasarkan di Tasikmalaya, tapi sampai menembus pasar Kalimantan dan Bali. “Ku Ibu teh dikintunkeun ka Surabaya, ke ku urang Surabaya dikintunkeun deui ka Banjarmasin sareng sajabina,” sebut Ibu lima putra/i itu.

Saking banyaknya pesanan, Mimih mesti dibantu 60 orang pegawai. Tugas mereka berbeda-beda, mulai dari mengurai benang karung, mencuci, sampai menyablon. “Dina karung eta teh sok aya tarigu nu nyareulap. Ku ibu dikepruk-kepruk terus dikempelkeun. Tarigu eta ge sok diical,” ungkapnya.

Mimih menuturkan, ia mulai menggeluti industri rumahannya itu sejak 1972. Kian kemari, usahanya semakin memperlihatkan kemajuan. Bahkan, ada pembeli yang berani membayar di muka karena takut tidak kebagian barang.

Tapi kini, semuanya tinggal kenangan. Usahanya mulai goyah sejak memasuki era reformasi. Harga bahan baku tak seimbang dengan harga jual. Bahkan, pasokan dari pabrik pun kian berkurang. Akhirnya, sejak 2003 usahanya benar-benar berhenti. “Ayeuna mah tinggal waasna. Tempat pamoean ge tos dijarualan,” lirih Mimih.

Kini, untuk mengisi waktu luangnya, Mimih beralih usaha. Ia dan suaminya membuka toko material di rumahnya. “Ieu mah jang manjang-manjang umur artos we, daripada teu aya dameul teuing,” katanya.

Disinggung perbedaan iklim usaha waktu dulu dan sekarang, Mimih malah membuang napas. Menurutnya, kondisinya sangat jauh berbeda. Dulu, uang begitu mudah didapat. Segalanya terasa sangat gampang. “Ahh… ayeuna mah menang bati sarebu ge meuni hese,” keluhnya. initasik|ashani

 

 

Komentari

komentar