Ilam Maolani (pakai peci) | Istimewa
Edukasi

Menjadi Guru yang Menginspirasi

initasik.com, edukasi | Sejatinya, guru bukan hanya pengajar atau pentransfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu. Ia sebagai pendidik, pembimbing, pembina, peneliti, penulis, motivator, inspirator, dan fasilitator.

“Tugas-tugas tersebut harus dijalankan dengan baik, jika memang guru tersebut mengetahui dan memahami hakikat diri sebagai sosok yang lebih dari sekadar pengajar. Yang dilakukan guru bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value. Bukan hanya pentransfer ilmu, tetapi juga pentransfer nilai-nilai pembentuk karakter siswa,” tutur Ilam Maolani, instruktur nasional kurikulum 2013 bidang Pendidikan Agama Islam.

Pria yang juga mengajar di SMPN 19 Kota Tasikmalaya itu mengatakan, menjadi guru adalah pilihan, tapi menjadi guru inspiratif merupakan kewajiban. Guru yang menginspirasi. Ada tiga cara agar eksistensi guru mampu menginspirasi peserta didik, yaitu dengan keteladanan perilaku, ucapan, dan tulisan.

Setiap perilaku guru biasanya menjadi model identifikasi bagi peserta didik. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.  Peserta didik melakukan suatu kebaikan karena dirinya termotivasi dan terinspirasi dari perilaku baik gurunya.

Inspirasi lewat ucapan artinya perkataan-perkataan guru kepada muridnya mampu menginspirasi mereka untuk berbuat baik. Sudah seharusnya ucapan guru perlu dijaga dan dipelihara kesantunan dan kesopanannya.

Menurutnya, sangat banyak perilaku siswa berubah karena tersentuh oleh nasihat atau kata kata gurunya. Ada siswa yang menangis menyesali perbuatan buruknya hanya karena tersentuh oleh untaian kata atau kalimat nasihat gurunya, sehingga dia berjanji untuk tidak melakukan keburukan lagi.

Adapun inspirasi melalui tulisan artinya seorang guru mampu merangkai kata, kalimat, atau artikel dalam bentuk tulisan. Isi tulisan tersebut mencerahkan dan ada nilai manfaat bagi para pembacanya, khususnya siswa.

Siswa yang membaca tulisan inspiratif dari gurunya seringkali dipahami, dihayati, dan dijadikan modal berharga bagi mereka untuk melangkah ke arah yang lebih baik. “Seiring dengan adanya gerakan literasi sekolah, maka ini menjadi kesempatan emas bagi guru untuk mengekspresikan potensi dan wawasannya dalam bentuk tulisan, baik kata kata mutiara, artikel, modul, makalah, maupun buku,” paparnya.

Melalui inspirasi perilaku, ucapan, dan tulisan guru, maka guru telah menjadi sosok yang dapat dikategorikan guru sukses, yaitu guru yang mampu mengubah dan menggugah perilaku peserta didik, baik pengetahuan, sikap maupun psikomotoriknya, ke arah yang lebih baik, maju dan berkembang.

“Tidak terlalu penting menanyakan sudah berapa lama menjadi guru, tapi yang lebih penting ditanyakan adalah seberapa besar keberadaan guru mampu menginspirasi peserta didik? Seberapa besar guru mampu menjadi inspiring teacher?” ujar Ilam.

Ia meyakini, guru inspiratif akan memberikan efek positif bagi peserta didik. “Mari kita berusaha untuk menjadi guru inspiratif. Insya Allah guru inspiratif itu guru hebat, terkenang, dan dikenang oleh peserta didik sepanjang masa. Dikenang karena inspirasi dan prestasinya, bukan karena frustasinya,” tandasnya. [Jay]