Syaepul | initasik.com
Edukasi

Menjadi Pengacara Itu Perlu Mental Baja, Harus Terus Ditempa

initasik.com, edukasi | Untuk menjadi pengacara andal yang diperlukan bukan hanya wawasan luas. Tidak cukup menguasai teori. Ada elemen lain yang juga tak kalah penting, yaitu mental.

Sadar hal itu, aktivis Galunggung Tasikmalaya Pecinta Alam (Guntapala) Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya (STHG) rutin menggelar Single Rope Technique (SRT) setiap satu minggu sekali.

“Ini menjadi salah satu cara buat kami untuk menempa mental dan melatih otak serta otot. Melatih diri untuk tidak mudah putus asa,” kata Asep Aziz Durrohman, ketua Guntapala, dalam satu kesempatan.

Ia menerangkan, SRT adalah tehnik untuk menelusuri goa yang lintasannya vertikal. Jelas tidak mungkin langsung terjun ke dalamnya. Diperlukan teknik khusus untuk masuk maupun keluar dari dalam goa vertikal. Bagi para caver, teknik itu dikenal dengan nama Single Rope Technique (SRT).

“Bukan hanya belajar teknik untuk menelusuri goa, tapi bisa melatih kepribadian juga. Dalam penggunaan alat itu harus memiliki keterampilan. Teknik-teknik membuat simpul itu pun melatih kerja otak kita. Harus ada keterampilan,” ujar mahasiswa semester 8 itu.

Menurutnya, mahasiswa hukum yang aktif di pecinta alam, memiliki nilai lebih, misalnya bisa mengimplementasikan ilmunya dengan mengadvokasi lingkungan. “Seperti kemarin kami melakukan penolakan kereta gantung Rinjani. Ketika ada hal seperti itu kami suka melakukan advokasi,” ungkapnya.

Rizal Ginanjar Sudaryo, anggota lainnnya, mengatakan, mental terlatih karena kegiatan ini berhubungan dengan ketinggian. Selain itu, berkaitan dengan kekuatan tangan dan kaki. Melatih daya ingat dalam keadaan yang membahayakan.

“Menguji mental. Asalnya tidak berani naik ke tempat-tempat tinggi, sekarang berani. Awalnya hanya berani naik di ketinggian 10 meter, kedua kalinya naik lagi menjadi 20 meter. Terus sampai ketinggian 100 meteran,” tuturnya. [Syaepul]

 

Komentari

komentar