Jay | initasik.com
Ekbis

Menjaring Laba dari Para Pencari Kerja

initasik.com, ekbis | Rabu, 3 Mei 2017. Hari masih pagi. Baru pukul 08.30 WIB. Namun, ratusan orang sudah berkerumun di depan GOR Dadaha, Kota Tasikmalaya. Penampilan mereka rapi. Sebagian pakai setelan jas.

“Mau melamar kerja. Mudah-mudahan ada rezekinya,” jawab Septian Yoga Permana saat ditanya initasik.com, di depan pintu masuk GOR Dadaha. Alumnus BSI Tasikmalaya yang tinggal di Ciamis itu berharap bisa kerja di salah satu provider terkemuka. “Saya kuliah di jurusan Manajemen Informatika,” tambahnya.

Lain halnya dengan Ajeng Artika. Lulusan Universitas Siliwangi jurusan Manajemen itu mengaku datang ke acara pameran lowongan kerja hanya untuk coba-coba. “Tidak terlalu berharap. Baru kali ini datang ke job fair,” ujar perempuan yang sebelumnya bekerja di pabrik farmasi itu.

Kendati acara tersebut belum dibuka, para pencari kerja sudah berkumpul di depan gedung. Mereka datang dari berbagai daerah. Yang dari luar Kota Tasikmalaya juga banyak. “Ada 31 perusahaan yang ikut acara ini,” sebut Decky Pulung, manajer Payungloker.com, perusahaan asal Semarang yang menggelar job fair di GOR Dadaha, selama dua hari. Sekarang dan besok, Kamis, 4 Mei 2017.

Decky mengatakan, pihaknya sudah biasa mengadakan acara pameran lowongan kerja di berbagai kota. Itu telah dilakoninya sejak 2011. Di Kota Tasikmalaya sudah terbilang sering. Lebih dari sepuluh kali.

“Kalau di Kota Tasimalaya, kami EO swasta yang pertama kali mengadakan pameran seperti ini. Setelah itu banyak yang mengikuti. Saya lupa persisnya sudah berapa kali mengadakan pameran di kota ini. Pastinya lebih dari sepuluh kali,” tutur Decky.

Ia mengaku, tujuan mengadakan acara seperti itu untuk mencari laba. Murni bisnis. Ada modal yang dikeluarkan untuk sewa tempat, mengurus perizinan, biaya hidup di tempat acara dan lainnya. Dia memang tidak sendirian. Ada tim yang dibawa dari Semarang. Semua butuh biaya.

“Tentu saja kita berharap dapat untung. Selain dari sewa stand, dominannya dari penjualan tiket. Kalau stand ada yang tidak bayar, karena mereka sudah menjadi klien kami sejak dulu,” paparnya.

Selama dua hari penyelenggaraan job fair, Decky menargetkan bisa menarik 1.000 pengunjung. Harga tiketnya Rp 25.000 per orang. Kalau target itu terpenuhi, omzetnya terhitung berapa rupiah yang masuk ke kantong panitia. Setelah dipotong biaya operasional, keuntungannya terbaca. Belum dari stand.

“Tapi kita sering mengalami kerugian. Bukan hanya sekali dua kali. Bulan Februari, Maret, April kemarin, di Solo dan Semarang, kita benar-benar rugi. Sekarang banyak saingan. Bukan hanya EO swasta, pemerintah pun suka mengadakan job fair,” terangnya.

Sepengetahuannya, di Jawa Tengah, khususnya, sudah banyak kompetitor. Jumlahnya lebih dari sepuluh. Itu yang skala menengah ke atas. Kalau dengan yang kecil-kecil lebih banyak lagi. Di tangan mereka, para pencari kerja yang notabene pengangguran, tidak punya penghasilan, bisa dijadikan ladang usaha. [Jay]

Komentari

komentar