Seni Budaya

Menonton Overlapping Perspective, Pameran Tunggal Prabu Perdana


initasik.com, seni budaya | Warga Tasik mungkin belum begitu akrab dengan seniman bertalenta, Prabu Perdana. Pria lulusan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung jurusan desain komunikasi visual ini memang lebih sering menunjukkan eksistensi di luar kota. Seperti lewat pameran tunggal yang berlangsung di Titik Temu Space yang dibuka oleh Angga Atmadilaga selaku manajer galeri dan Dr Melani Setiawan sebagai kolektor seni, Jalan Gatot Soebroto nomor 91 F Bandung dari tanggal 12 sampai 19 Mei 2017.

“Kota Bandung menjadi tempat menimba ilmu dan tempat mengawali karir sebagai perupa karena suasana disini cukup mendukung untuk berkarya dan mengembangkan diri untuk ke jenjang yang lebih jauh lagi,” kata warga Jalan Buninagara 1 Kota Tasikmalaya ini.

Pameran Tunggal Prabu Perdana berjudul Overlapping Perspective bertema realisme sosial tersebut dijelaskan Prabu memiliki filosofi bahwa sudut pandang dalam melihat kenyataan yang saling bertumpuk akhirnya dapat menghasilkan makna baru. Media yang digunakan adalah pensil di atas kertas dengan teknik drawing.

Prabu cukup sering mengikuti pameran, terhitung sejak tahun 2010. Namun untuk pameran tunggal, ini merupakan yang pertama. Pria kelahiran Tasikmalaya, 12 Oktober 1984 ini mengungkapkan bahwa ketertarikannya di bidang seni rupa sudah ada sejak kecil. Dengan jujur dia mengungkapkan ketika dirinya dewasa, jalur kesenian dipilihnya sebagai profesi karena dia tidak memiliki pilihan lain.

Meski demikian, dia mengaku sangat serius menekuni bidang sekali. “Karena tidak ada pilihan lain ya berarti harus konsisten dan tekun,” kata Prabu.

Dalam proses pengerjaan karya-karya dalam pameran ini, Prabu mengambil image potongan foto dari berbagai media yaitu dari koran dan internet. Hal ini mirip dengan yang dilakukan oleh Gerhard Richter di masa awal-awal dan Luc Tuymans yang banyak melukis ulang image dari foto. “Mereka (Gerhard Ritcher dan Luc Tuymans, red) adalah perupa favorit saya, hanya kali ini media nya berbeda, saya menggunakan pensil diatas kertas,” kata Prabu

Teknik drawing overlap tidak sengaja ditemukan Prabu setelah browsing. Dia menemukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan Francis Picabia yang telah melakukan hal tersebut puluhan tahun yang lalu. “Francis Picabia adalah seorang perupa dadaisme dengan karya lukis dan drawingnya yang membuat saya kagum. Saya menemukan gaya overlap sebelum melihat karya-karya ini, setelah itu saya makin tertarik dengan gaya ini dan mempelajari nya,” kata Prabu.

Dia berharap bidang seni akan selalu lebih baik dari masa ke masa dari berbagai aspek. Misalnya galeri dan seniman lebih banyak melakukan kerjasama agar terciptanya simbiosis mutualisme. “Seni lebih memasyarakat. Bukan hanya kalangan atas dan seniman saja, tetapi lebih meluas dan lebih meningkatkan wawasan pengetahuan kekaryaan semua lapisan seniman,” harap Prabu.

“Sehingga jumlah seniman kita bisa lebih banyak yang muncul ke permukaan karena kualitas karya yang mumpuni,” pungkasnya.[kl]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentari

Komentari