Peristiwa

Menteri Susi: Jangan Sampai Indonesia Jadi Negara Penyuplai Kuli

initasik.com, peristiwa | Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti, mengajaka masyarakat membiasakan makan ikan. Ajakan itu disampaikannya saat menghadiri kuliah umum di Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya, Kamis, 23 Agustus 2018.

Menurutnya, dengan rutin mengonsumsi ikan bisa meningkatkan IQ, karena ikan memiliki kandungan omega dan protein yang sangat tinggi. “Sangat bagus untuk meningkatkan kepandaian kita,” tandasnya.

Ia menegaskan, jika pola makan masyarakat Indonesia hanya bergantung pada nasi, jagung, dan singkong, bisa dipastikan akan kekurangan protein lantaran makanan-makanan tersebut memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi.

Imbasnya, kecerdasan masyarakat Indonesia tidak akan berkembang dan cenderung memiliki nilai IQ yang rendah, sehingga generasi penerus bangsa tidak akan memiliki daya saing yang tinggi. “Jangan sampai Indonesia menjadi negara penyuplai kuli. Penyuplai buruh,” tandas Susi.

Padahal, sambung Susi, Indonesia memiliki surplus demografi. Setiap tahun pertambahan bayi semakin meningkat. “Semestinya hal itu bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk menaikkan produktivitas dalam negeri,” tambahnya.

Disamping itu, ia juga mengingatkan agar Pemerintah harus terus mewaspadai masuknya era industri 4.0, dimana mesin-mesin lebih dikedepankan ketimbang potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dalam dunia industri.

Pemerintah serta lembaga akademik harus bisa mengantisipasi hal itu agar para generasi muda bisa terjamin pekerjaannya. “Perbankan dalam lima tahun ke depan akan secara terus-menerus mengurangi karyawanya, karena sekarang account banking itu sudah  berjalan. Teller-teller makin hari akan makin berkurang. Bahkan tidak menutup kemungkinan kantor cabangpun akan berkurang drastis. Akan ke mana anak-anak kita? Sudahkah itu kita persiapkan? Ini PR bagi pemerintah dan akademisi,” bebernya.

Di sisi lain, digitalisasi selama kurun waktu lima tahun ini perkembanganya pesat. Sementara kurikulum pendidikan sampai hari ini masih menggunakan kurikulum sepuluh tahun yang lalu. “Kita harus bisa mengadaptasi akan perubahan itu,” ujarnya mengingatkan. [Eri]