Inspirasi

Menulis Buku Usia Lima Tahun, Nia Masuk Rekor MURI

Kabupaten Tasik | Fadhilatunnisa Aghniya Ramadhani. Itu nama lengkapnya. Biasa disapa Nia. Lahir di Purwokerto, 8 Oktober 2007. Masih belia. Namun, dibanding anak seusianya, putri ketiga dari pasangan Muhammad Noer dan Diyah Mulyaningsih itu, berbeda.

Nia masuk sekolah dasar (SD) saat berumur 4,9 tahun. Umumnya, masuk SD itu usia 6 atau 7 tahun. “Sebelum masuk sekolah, anak saya sudah mendapat rekomendasi dari psikolog yang menyatakan bahwa Nia sudah bisa mengikuti pelajaran SD, meskipun baru empat tahun. Rekomendasi itu diterima Dinas Pendidikan,” sebut Muhammad Noer, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Nia sama dengan anak yang lainnya. Ia bukan anak istimewa. Tapi, kedua orang tuanya telah memaksimalkan potensinya. “Semua anak bisa seperti Nia,” tandas Noer meyakinkan.

Selain masuk SD di usia tidak umum, sambung Noer, Nia sudah bisa menulis buku sendiri. Isinya seputar aktivitas sehari-hari. Semacam buku harian. Dan itu masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori penulis buku harian termuda. Waktu itu usia Nia masih 5,6 tahun.

“Pada saat saya disodori draft buku ini oleh ayahnya, saya tidak percaya kalau anak usia lima tahun bisa menulis buku. Saya harus melihat langsung bagaimana Nia bisa menulis buku. Ternyata di depan laptopnya, ia lancar menulis catatan hariannya. Bagus sekali,” tulis Drs. Waidi MBA.Ed, penulis buku pengembangan diri dan dosen Universitas Jenderal Soedirman, dalam buku “Balita Menulis Buku” karya Nia.

Kini, Nia duduk di bangku kelas empat MI Al-Hidayah, Kampung Lampegan, Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. “Saya ingin tinggal di Inggris,” ujar Nia melontarkan mimpi yang ingin diwujudkannya kelak. initasik.com|sep

Komentari

komentar