Syaepul | initasik.com
Sorot

Menyusuri Bangunan Cagar Budaya di Kota Tasikmalaya

initasik.com, sorot | Lima tahun lalu, persoalan bangunan cagar budaya sempat mengemuka. Ramai diperbincangan. Tersiar kabar kalau pemerintah akan memberikan keringanan pembayaran, bahkan sampai menghapus, pajak bumi dan bangunan tempat-tempat bersejarah di Kota Tasikmalaya.

Sampai sekarang belum ada kepastian. Malah ada beberapa bangunan cagar budaya yang sudah dirombak. Salah satunya bangunan Toko Sinar Agung, di Jl. Tarumanagara No. 39, Kelurahan Tawangsari. Sekarang, itu digunakan salah satu bank. Titik lainnya misalnya kantor Patih yang saat ini sedang diratakan.

Dalam buku kecil yang disusun Disbudparpora Kota Tasikmalaya, dirinci ada 19 titik yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Semuanya berada di pusat kota. Di antaranya Penginapan Sunda (Jl. Tarumanagara 31), bekas kantor perusahaan vecht yang sekarang digunakan pool Damri, pendopo lama Kabupaten Tasikmalaya, stasiun kereta api dan rumah-rumah tinggal.

Misalnya Toko Mebel Murah di Jl. dr. Soekardjo No. 42. Rumah tersebut bercorak budaya Tionghoa. Itu terlihat dari arsitek eksterior maupun interior bangunan. Bentuk pintu, jendela serta kaca masih tampak asli. “Ini rumah turun-temurun. Kurang tahu pastinya. Yang punya rumah tinggalnya di Lengkong,” kata perempuan yang tinggal di toko tersebut.

Rumah lainnya, milik Neng Nurelisah, di Jl. Dewi Sartika No. 12. Setengah dari rumah tersebut, kata dia, sudah menjadi milik orang lain. Ia bersama adik dan anak-anaknya tinggal di tempat yang dulunya itu sebagai kamar tidur.

“Sejak lahir sudah di sini, tahun 1961. D isini yang tinggal ada tiga keluarga. Semuanya kakak-adik,” sebutnya.

Menurutnya, rumah itu diwariskan secara turun-temurun dari buyutnya. Terkait rumahnya yang disebut-sebut sebagai bangunan cagar budaya, ia mengaku tidak mengetahuinya. Namun, tidak sedikit orang yang sering berkunjung ke rumahnya hanya sekadar tanya-tanya.

“Orang-orang suka ada yang datang untuk sekadar foto-foto. Kalau dari pihak pemerintah itu belum pernah ada. Saya tidak tahu kalau rumah ini jadi bangunan cagar budaya. Baru tahu dari Aa,” ujarnya.

Dony Mardiyani, 23 tahun, anak pemilik rumah cagar budaya di Jl. Dewi Sartika No. 16, mengatakan hal serupa. Selama tinggal di sana bersama ibunya, belum pernah ada yang mendata bahwa rumah yang ditinggalinya termasuk bangunan cagar budaya.

“Saya tidak pernah tahu kalau rumah ini bangunan cagar budaya. Sekitar tahun 2009 direnovasi, akibat gempa,” ujarnya.

Ia berdalih, kalau sejak dulu pemerintah memberi penjelasakan terkait bangunan cagar budaya, pihaknya berpikir ulang untuk merenovasinya. Ia pun mempertanyakan, kriteria apa sehingga rumah tinggalnya menjadi bangunan cagar budaya.

Padahal, banyak bangunan kuno yang arsitektur rumah sama tapi tidak masuk. Dan tidak sedikit bangunan kunon yang menjadi bank dan pertokoan. “Rumah saya masuk data di dinas itu tidak tahu sejak kapan, baru tahu sekarang,” pungkasnya. [Syaepul]