Dadang | Jay/initasik.com
Ekbis

Merayakan Hari Kemerdekaan, Menjual Bendera Merah Putih

initasik.com, ekbis | Sehari-hari, Dadang bekerja sebagai tukang parkir di sekitaran Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Penghasilannya tidak menentu. Tapi, pria asal Garut yang kini mengontrak rumah di Rancabango itu punya usaha tahunan yang ia unggulkan.

Setiap Agustus selalu menjual bendera merah putih di pinggir jalan. Menjajakan barang di atas trotoar. Itu sudah dilakoninya selama 14 tahun. Bukan hanya di Tasikmalaya. Pernah juga di Semarang dan Solo, Jawa Tengah.

Insting usahanya jalan. Di saat orang lain butuh bendera merah putih dan ornamen lainnya untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia, ia menyediakan barang-barang itu. “Kalau sebelumnya saya dagang di Jawa Tengah. Di Tasik ini sudah delapan Agustusan,” sebutnya.

Ia mengaku, untuk dari menjual bendera cukup menjanjikan. Waktu di Jawa Tengah, misalnya, selama dua puluh hari di sana, ia pulang bawa uang sampai dua juta rupiah. Itu sisa bayar kontrakan dan keperluan sehari-hari.

“Kalau bayar kontrakan patungan. Dari sini kita berangkat delapan sampai sepuluh orang. Semua tinggal di satu rumah. Bayar kontrakannya tidak terasa berat. Tiga hari menjelang tanggal 1 Agustus kita berangkat ke Jawa,” tuturnya.

Namun, kini ia memilih jualan di Tasik. Alasannya usia. Umurnya sudah 52 tahun. Lagi pula, katanya, meski penjualan tidak seramai di Jawa Tengah, untungnya dari menjual bendera masih lebih bagus dibanding markiran.

Ia menceritakan, animo warga Jawa Tengah dalam merayakan kemerdekaan republik ini masih tinggi. Setiap rumah pasti pasang bendera. Tak heran, selama jualan di sana ia bisa habis puluhan kodi bendera dan ornamen lainnya, seperti umbul-umbul. “Harganya mulai Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Tergantung ukuran,” sebutnya.

Bukan hanya Dadang. Jajang Supriatna pun sama. Pria asal Panjalu, Kabupaten Ciamis, itu memilih menutup kios rokoknya demi jualan bendera. Itu sudah dijalaninya selama dua kali Agustusan.

“Hasil tahun kemarin lumayan kalau dibanding dari kios rokok mah. Mudah-mudahan sekarang juga begitu. Saya jualan di sini dari pagi sampai sore,” katanya saat diwawancara di lapak jualannya, Jl. KH Zainal Musthafa. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?