Dua pasien Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya | Jay/initasik.com
Sosial Politik

Mereka Gila, Wajar Saja Bila Tidak Puasa

initasik.com, sosial | Dua pria renta tampak asyik merokok di antara teman-temannya yang sedang berjoget. Asap rokok mengepul bebas ke udara pagi. Mereka tak peduli kalau sekarang Ramadan. Orang-orang sedang puasa. Mana peduli, sadar juga tidak.

“Sama saja,” jawab Dadang Heryadi, pengelola Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya, panti rehabilitasi sosial orang kelainan jiwa, di Cilembang, Kota Tasikmalaya. Menurutnya, Ramadan atau bukan, kebutuhan makan untuk mereka sama seperti bulan-bulan biasa. Tak berkurang.

“Kalau puasa jelas, mereka bebas kewajiban. Mereka gila, wajar saja bila tidak puasa. Tapi saya pernah waswas bagaimana hukumnya memandikan mereka yang bukan muhrim. Saya suka membersihkan badan wanita-wanita itu,” tuturnya.

Untuk memastikan hal itu, Dadang menanyakannya kepada yang paham agama. “Katanya boleh. Darurat. Soalnya, kan, kalau saya memandikan mereka itu sama seperti halnya kita mandi. Dibersihkan sampai ke sela-selanya,” jelasnya.

Soal makan, untuk sekitar 200 pasien, sehari rata-rata habis 1 kuintal beras. Belum lauk-pauk dan lainnya. Dadang harus berjibaku memenuhinya. Kalau tidak ada uang, ia sampai berutang ke salah satu pedagang beras di Pasar Cikurubuk.

Ia tak menutupi, selalu ada bantuan dari para donatur. Namun, di kala tertentu suka kehabisan bekal. Uang tidak cukup menutupi kebutuhan sehari-hari. “Jangankan fasilitas tempat yang layak, untuk makan pun Pemkot Tasikmalaya tidak memikirkannya. Saya sampai ngutang ke pasar,” jelasnya.

Dadang mengaku kecewa dengan sikap Pemkot Tasikmalaya yang tidak memerhatikan keberadaan Yayasan Mentari Hati. Sementara dari daerah lain yang banyak yang studi banding ke tempatnya. Bahkan, itu melalui dinas terkait di Pemkot Tasikmalaya.

“Kalau ada pemda lain yang studi banding ke sini dan mereka dibawa oleh Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, saya selalu bilang ke orang Dinas Sosial itu, apa tidak malu membawa tamu ke tempat seperti ini?” ucapnya.

Sejak lama, ia berharap punya tempat yang layak untuk orang-orang hilang ingatan itu. Ia perlu tempat nyaman untuk menyembuhkan mereka. Terbayang, selain kamar-kamar selayaknya, ada lahan untuk berkebun atau memelihara hewan ternak. Diyakini, itu akan mempercepat penyembuhan, sekaligus memberikan pasien keterampilan yang bisa bermanfaat bila kelak mereka sembuh.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Beti Badrawati, menepis kalau pemkot tidak memerhatikan Yayasan Mentari Hati. Pihaknya sempat akan memberikan bantuan, tapi yang mengajukan ternyata beda nama. Bukan Mentari Hati, tapi Keris Nangtung.

Soal tempat, untuk saat ini ia tidak yakin kalau Pemkot Tasik bisa menyediakan dan membangun pusat rehabilitasi untuk Yayasan Mentari Hati. “Kantor Dinas Sosial ini juga masih numpang di tempat orang,” dalihnya. [Jay]