Ilustrasi | Dok. initasik.com
Edukasi

Mereka Jadi Pendidik Bukan Sekadar Mengejar Materi, Apalagi Cuma Gengsi


initasik.com, edukasi | Ada banyak alasan mengapa orang-orang memilih menjadi guru. Salah satunya panggilan hati. Ingin mengabdi. Itulah yang dikatakan Ismawati Emalia, Guru kelas V SDN 1 Muncang, Kp. Muncang, Desa Muncang, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya.

“Bukan gaji yang jadi alasan untuk mengajar. Keinginan sendiri. Ada kesenangan dan kepuasan tersendiri juga. Terlebih ketika melihak anak-anak ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa. Selain itu ada dorongan juga dari orangtua, keluarga, serta lingkungan,” tuturnya.

Menurutnya, menjadi seorang pendidik secara tidak langsung banyak mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya. Misalnya, belajar dari kerpibadian setiap anak, salah satunya tentang kepolosannya, pertemannya, dan masih banyak lagi.

“Belajar mengamalkan ilmu yang didapat dari perkuliahan. Sambil belajar juga dari anak-anak. Banyak ilmu. Minimal ada jejak hasil belajar selama empat tahun itu. Ngga ada gaji honorer, apalagi kalau di perkampungan. Tapi tetap bersyukur, kadang selalu ada tambahan, terus pengeluaran juga sedikit,” ungkapnya.

Nurin Rosdiyanah, guru kelas III SD IT Qoshrul Muhajirin, Kp. Badakpaeh, Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, menceritakan, keputusannya menjadi seorang pendidik bukan untuk perbaikan kesejahteraan, melainkan ada panggilan hati untuk mengabdi.

Ikut serta untuk membangun anak bangsa yang berkarakter, dan cerdas. Menjadi pendidik banyak tantangannya dan bukan hal yang mudah.  Dia mengumpakan, mengajar sama dengan hal nya memberikan umpan, jika umpan tersebut bagus maka mangsa akan tersenyum dan menjadi calon pemangsa yang hebat.

“Begitupun dengan peserta didik, jika saya mengajar dengan sungguh-sungguh maka peserta didik pun akan meraih kesuksesan dengan karakter pribadi bangsa yang sangat kuat. Kalau dilihat dari gaji memang sangat kurang, tapi ini sudah menjadi cita-cita saya menjadi pengabdi negara untuk menciptakan anak-anak yang luar biasa.Tentunya anak-anak yang berkarakter,” paparnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?