Inspirasi

Mereka Membuat Selokan di Tebing Curam; Mirip Ma Eroh, Dulu

Kabupaten Tasik | Merekalah pejuang kepentingan rakyat sebenarnya, bukan para politisi dan pegawai negeri kemaruk yang menggaruk APBD. Bukan perut sendiri yang mereka pikirkan, tapi meloncat ke masa depan. Mengkhawatirkan nasib generasi mendatang. Menyingkirkan ego demi menyelamatkan kehidupan.

Masih ingat dengan kisah Mak Eroh, perempuan perkasa asal Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, yang membuat parit di bukit Dawuhan, sekitar 31 tahun silam? Menggunakan pahat, belincong, linggis, dan cangkul, ia mencacah tebing cadas untuk membuat saluran air.

Setelah bekerja keras sekitar dua tahun, Mak Eroh –yang semula berjibaku sendiri, dan pada akhirnya dibantu warga– berhasil membuat saluran air sepanjang 4,5 kilometer dengan lebar 2 meter dan ketinggian 1 meter yang melalui delapan bukti.

Perjuangan serupa kini tengah dijalani Miin bersama masyarakat Desa Cidagaleun, Kecamatan Cigalontang, dan  warga Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka sedang membuat selokan yang melintasi sekitar tujuh bukit. Mengorbankan tenaga dan pikiran. Menyisihkan waktu di antara rutinitas menafkahi keluarga.

Semua dikerjakan atas dasar kesadaran. Berharap generasi kelak tidak kesulitan air dan masih bisa bercocok tanam, terutama padi. Sejak 2005, Miin bersama rekannya mulai memahat mimpi di pasir (bukit) Tonjong Panjang. Mimpi itu berupa selokan yang bisa mengairi pesawahan dan perumahan warga. Sumber airnya dari curug Cinila.

Sepintas tidak mungkin membuat saluran air di pinggir tebing yang kemiringannya membuat nyali ciut. Namun bagi Miin tak ada yang tidak mungkin. Kerjakan. Jalani terus. Ia meyakini, setiap usaha pasti akan membuahkan hasil.

Selangkah demi selangkah mimpi itu mewujud. Di antara tebing curam itu kini terbentuk garis pinggir berupa selokan. Untuk membuat itu, Miin harus mengikat pinggangnya menggunakan tali tambang dan mengaitkannya ke pohon besar. Ia bergelantungan sambil mengikis cadas dengan linggis dan balincong.

Itu dilakukannya hampir satu tahun, dan berhasil membuat bakal selokan sepanjang seratus meteran. “Palihan pasir Tonjong Panjang memang paling susah. Curam pisan. Di dinya hungkul ge dua tahun,” ujar Miin seraya menambahkan, selain medannya sulit, pengerjaannya pun hanya dilakukan seminggu sekali.

Tiap Kamis, pagi hingga siang, ia dan warga lainnya bergotong royong membuat selokan. Kini, setelah berjalan hampir sebelas tahun, mereka sudah berhasil membuat selokan sepanjang 700 meter.

Rencananya, selokan yang akan dibuat sepanjang 6 km. Jika itu sudah selesai, selain bisa mengairi sawah-sawah yang sudah ada namun sulit mendapat suplai air, juga direncanakan akan mencetak sawah baru seluas 150 hektar. Inilah yang dimaksud loncat ke masa depan dan menyelamatkan kehidupan.

Miin tersenyum saat ditanya kapan selokan sepanjang 6 km itu bisa selesai. Ia mengaku tak punya target. Yang penting terus bergerak, meski hanya dengan segelintir orang. “Bapa mah ngajak teh sambil berjoang. Ceuk ajengan mah dakwah bari nyontoan,” ujarnya.

Bandi, warga Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, yang suka ikut ikut gotong royong, menambahkan, pembuatan selokan itu didasari atas perhitungan bahwa kelak sawah-sawah yang ada kini kemungkinan besar akan habis karena dijadikan tempat tinggal. “Kolot mah mikirna jauh. Nyieun susukan teh jang anak-incu jaga,” tandasnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar