Birokrasi

Merintis Kemandirian Pupuk Petani dengan UPPO

Kabupaten Tasik | Yana, petani asal Cisayong, sudah lima tahun ini bercerai dengan pupuk kimia. Ia memilih beralih ke pupuk organik. Membuat pupuk sendiri dari buah cengkudu dan lainnya.  Hasilnya memuaskan. Dari 250 bata sawah yang digarapnya, tiap panen tidak kurang dapat 2,5 ton.

“Dia tidak mengeluarkan uang untuk beli pupuk,” sebut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Mohammad Zen, saat memberi sambutan dalam panen raya padi organik di Cantilan, Desa/Kecamatan Sukarame, Selasa, 21 Maret 2017.

Ia berharap, semua petani meniru langkah Yana. Mengandalkan pupuk organik jauh lebih baik ketimbang pakai kimia. Sebagai langkah konkret, Pemkab Tasikmalaya melalui Dispartan, membuat Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) di 23 desa.

“UPPO yang sudah berjalan bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan pupuk di kelompoknya, tapi bisa menyuplai ke kelompok petani lain, bahkan satu desa itu bisa terpenuhi kebutuhan pupuk organiknya. Itu yang kami harapkan,” papar Zen.

Pemkab Tasik, kata Zen, memberi bantuan UPPO bukan hanya bangunannya, tapi termasuk kebutuhan pokok lainnya, seperti sapi, motor, musala dan lain-lain. “UPPO ini fungsinya tempat membuat pupuk organik. Petani jangan bergantung lagi pada pupuk kimia. Kalau petani setiap membutuhkan pupuk, berpikir di mana beli pupuk, saya rasa kapan mandirinya petani? Uang hasil tani bisa habis untuk membeli pupuk,” tandasnya.

Ia berharap, semakin banyak petani di Kabupaten Tasikmalaya yang beralih ke pertanian organik, khususnya padi. Setiap tahun Dispartan menargetkan penambahan seribu hektar budidaya padi organik dan mengusulkan da 50 hektar s.d. 100 hektar untuk disertifikasi. initasik.com|is/adv

Komentari

komentar