Ekbis

Mesin Bordir Komputer Geser Tenaga Manusia

initasik.com, ekbis | Keberadaan mesin bordir komputer memudahkan para pengusaha menjalankan bisnisnya. Pipin, salah seorang pemilik usaha bordir di Kawalu, Kota Tasikmalaya, menyebutkan, saat ini membordir semakin cepat seiring hadirnya mesin-mesin yang terus diinovasi.

Dibandingkan saat ia merintis sejak kurang lebih dua puluh tahun lalu, sekarang jauh lebih baik. “Dulu mah pengen dapat satu kodi saja susah, soalnya prosesnya manual. Sekarang sangat mudah,” ujarnya, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Selain cepatnya proses produksi, keberadaan teknologi yang kian canggih juga turut menekan biaya produksi. Saat ini, satu orang pekerja bisa memegang dua buah mesin Lungxiang 12 kepala yang ia miliki. Itu setara dengan 12 mesin jahit.

Untuk urusan kualitas, wanita yang memproduksi bordiran mukena dan busana muslim ini menyebutkan sama saja. Malah, proses bordiran dengan menggunakan mesin otomatis hasilnya sedikit lebih rapi dan hemat benang ketimbang menggunakan mesin manual.

Dalam sebulan, dengan delapan mesin bordir komputer bisa menghasilkan 1.500 kodi busana muslim. Kendati begitu, menurutnya tak semua bordiran bisa menggunakan mesin bordir otomatis. “Misalmya renda mukena. Rendanya muke itu kan ngga bisa ditempel langsung sama mesin otomatis. Harus pake mesin manual,” tandasnya.

Di samping itu, Pipin menyebutkan, ada dampak negatif dari kemajuan teknologi dalam industri bordir ini. Mahalnya sebuah mesin otomatis yang harganya mencapai Rp 300 juta per unitnya, membuat para penggiat industri bordir kecil kian gulung tikar.

Mereka yang tak punya modal, kebanyakan memilih alih pekerjaan dan sebagian bertahan dengan sistem maklun. Itupun jika ada orderan border. Kalau tidak, hanya mengerjakan maklun jahit pakaian. “Di sini hanya bordir sama motong. Untuk menjahitnya kita punya karyawan luar. Sistemnya maklun. Bawa barang dari kita, nanti kalau sudah beres dibayar,” imbuhnya. [Eri]